Sultan Ma’ruf Syah, Sultan Pidie Yang Ditakuti Portugis

Makam Sultan Yang Bergelar Sultan Ma’ruf Syah di Dayah Tanoh Klibeut, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie. (Foto: Khairul Syuhada)

Ia seorang sultan yang digelar dengan Ma’ruf Syah; namanya tidak disebutkan. Ma’ruf berarti kebajikan. Makna gelarannya itu kira-kira: raja kebajikan. Ia wafat pada malam Ahad, 22 Jumadal Akhir 917 H, atau 14 September 1511 M, sebulan setelah Portugis menyerang Malaka pada 10 Agustus 1511, dan Malaka jatuh ke tangan bangsa Kristiani itu pada 24 Agustus 1511—sebuah kerugian besar yang diderita bangsa-bangsa Islam di Timur pada permulaan abad ke- 16.

Kata William Marsden dalam Sejarah Sumatra, ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis, Aceh dan Daya adalah bagian dari Pidie. Pernyataan yang sah-sah saja untuk diterima.

Dua daerah ini, tulis Marsden lagi, diperintah oleh dua orang budak atau bawahan Sultan Pidie yang dikawinkan dengan keponakan si Sultan. Pernyataan ini perlu ditinjau.

Berdasarkan temuan mutakhir, seorang Sultan Lamuri (Aceh) telah dimakamkan di Kuta Leubok, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar. Namanya, Sultan Muhammad Syah, wafat pada 908 H, sekitar 9 tahun sebelum kemangkatan Sultan Ma’ruf Syah. Puteranya, Sultan Munawwar Syah, ditemukan makamnya di Pante Raja, Pidie. Ia adalah bapak dari para sultan Aceh Darussalam, antara lain Syamsu Syah, Adilullah, ‘Ali Ri’ayah Syah, dan kakek dari Sultan ‘Ali Mughayah Syah. Tidak mungkin, penguasa Aceh budak dari Sultan Ma’ruf Syah, tapi pernah menjadi malik atau raja di bawah Sultan Ma’ruf Syah adalah suatu hal yang, mungkin saja, dapat diterima—ini menunjukkan suatu kesatuan yang terbangun di antara wilayah-wilayah Islam di Aceh pada permulaan abad ke-16. Namun, akan sangat lebih tepat lagi, jika dikatakan bahwa antara Sultan Pidie, Ma’ruf Syah, dan Sultan Aceh, Munawwar Syah, telah terikat suatu kesepakatan untuk menghadapi ancaman Portugis. Setelah Ma’ruf Syah wafat pada Jumadal Akhir 917 H/September 1511 M, Munawwar Syah mengambil kendali atas Pidie.

Tahun 1511 adalah tahun paling menentukan bagi negeri-negeri Islam di Timur. Keterangan Marsden menyangkut hubungan Sultan Pidie, berikut Sultan Pasai, dengan Portugis sebelum kejatuhan Malaka dalam tahun ini benar-benar perlu diselidiki serta diluruskan.

Menurut Marsden, sikap Sultan Pidie yang menampung pelarian Portugis dari Malaka mendapat penghargaan dari Albequerque, gubernur Portugis di India. Maka, dalam perjalanannya menyerang Malaka, Albequerque sempat singgah dan memperbarui persekutuannya dengan Sultan Pidie, yang konon telah dirintis Sequeira. Perjalanan, lalu, diteruskan ke Pasai. Sultan Pasai, katanya, cuci tangan atas kejahatan yang dilakukan terhadap pelarian Portugis. Albequerque menunda pembalasan dendamnya. Ia segera menyeberang ke Malaka, dan tiba pada 1 Juli 1511.

Marsden menyusun cerita ini dari sumber-sumber Portugis yang dikumpulkannya. Maka, tampak sekali dalam ceritanya kesan ingin menjaga citra Albequerque sebagai penakluk besar bangsa Portugis, di samping ingin menunjukkan kedunguan Sultan Pidie yang lebih mementingkan diri sendiri, begitu pula kelemahan dan sikap pengecut Sultan Pasai. Kesan serupa, jika tidak ingin dikatakan lebih buruk dan konyol lagi, juga diberikan oleh empunya cerita dalam Hikayat Aceh ketika bertutur tentang Sultan Ma’arif Syah—pengucapan yang keliru—yang katanya penguasa Syahr Deli (?).

Informasi yang diberikan teks inskripsi pada nisan makam Sultan Ma’ruf Syah justru sangat bertentangan dengan cerita Marsden, atau yang dalam Hikayat Aceh. Selain ayat-ayat Al-Qur’an begitu pula bait-bait syair yang mensinyalir sikap perlawanan yang diambil Sultan Ma’ruf dalam menghadapi ancaman imperialisme Portugis, secara lebih terang dan tegas lagi Sultan Ma’ruf Syah disebut sebagai al-jah al-madhfur min al-a’da’, martabat yang dimenangkan dari musuh-musuhnya. Dalam konteks tahun 1511, siapa yang telah disebut sebagai musuh-musuhnya ini? Tentu tidak mungkin lain dari Portugis.

Teks ini secara terang menginformasikan fakta keberhasilan Sultan Ma’ruf Syah menghalau Portugis dari perairan Sumatera sehingga Albequerque terpaksa bergegas mundur dan mencoba menerobos benteng pertahanan Malaka. Sayang, Malaka yang merupakan salah satu bandar penting di Dunia Islam—dan dinasti pemerintahnya memiliki hubungan kekerabatan dengan Pasai, Aru, Pidie dan Aceh—tidak dapat diselamatkan.

Peristiwa kejatuhan Malaka ke dalam tangan Portugis menggemparkan. Dapat dibayangkan bagaimana Sultan Ma’ruf Syah terpukul dengan kejadian ini. Keberuntungan bangsa imperialis yang secara terang-terangan menyatakan kedatangannya untuk memperoleh rempah-rempah dan menyebarkan agama Nasrani, ini benar-benar tidak dapat diterimanya. Ia sadar akan implikasi yang timbul setelah Portugis memperoleh pinjakan yang mantap di kawasan strategis Dunia Islam ini. Namun, tak lama, hanya selang sebulan dari kejatuhan Malaka, ajal datang menjemput sang Sultan.

Kepulangan pahlawan Islam ini ke rahmatullah merupakan sebuah luka susulan di hati kaum Muslimin. Di puncak sebuah bukit buatan di Gampong Dayah Tanoh Klibeut, Pidie, jasadnya dimakamkan agar kepahlawanan dan semangatnya senantiasa terpatri dalam ingatan bangsanya. Dan di atas puncak satu batu nisannya, terukir doa: Ya Allah, ampuni dan sayangilah pemilik kubur ini, sebaris doa yang juga ditemukan pada nisan makam Raja Kanayan, pahlawan Islam yang lain di Samudra Pasai.

Namun pergulatan dengan kaum imperialisme belum berakhir. Dari Lamuri, seorang pahlawan lain yang selama ini menyertai Sultan Ma’ruf Syah, bangkit pula untuk memimpin jihad di jalan Allah: Sultan Munawwar Syah. Pada waktu kemudian, Sultan Munawwar Syah diikuti pula oleh anak-anak dan cucu-cucunya dalam jihad ini, di antaranya yang paling terkenal adalah Sultan ‘Ali Mughayat Syah dan Malik Ibrahim.

Baca Selengkapnya…
Komentar Facebook
Ads