Di daerah ini harga cabai hanya Rp3.000/kg

  • Whatsapp
Begini cara ilmuwan mengukur pedasnya cabai
(Antara)

Watampone (KANALACEH.COM) – Saat harga cabai menjulang tinggi di beberapa daerah di Indonesia, sebaliknya terjadi di Desa Panyili, Kecamatan Palakka, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Harga cabai di sana hanya dibanderol Rp3.000 per kilogram.

Mengapa murah? Penyebabnya bukan karena melimpahnya stok cabai di Desa Panyili, melainkan petani ‘membanting’ harga karena takut hasil panennya membusuk dan tidak laku.

Yusuf, 45 tahun, petani setempat mengatakan, jatuhnya harga cabai disebabkan kualitas cabai yang buruk. Kualitas cabai yang dipanen banyak yang membusuk akibat curah hujan yang turun saat buah cabai mulai membesar. Sehingga menyebabkan banyak cabai yang busuk dan tidak bisa dipanen.

Kondisi ini pun dimanfaatkan para tengkulak. “Ada tengkulak yang masuk dan harga yang ditetapkan tengkulak dari kota hanya Rp3.000 saja. Kalau tidak dijual, kami khawatir cabainya akan rusak dan tidak laku makanya terpaksa kami jual kepada mereka,” kata Yusuf, Senin (9/1).

Akibat panen yang kurang dan harga cabai yang murah itu, Yusuf merugi. Penghasilannya tergerus hingga Rp4 juta sekali panen. Padahal sebelumnya, saat panen, ia bisa mendapat penghasilan hingga Rp20 juta.

Sementara, Rapi, 50 tahun, petani lainnya dari Desa Panyili, mendapatkan harga yang lebih tinggi saat membawa cabainya ke pasar. Di sana, kata dia, ada pedagang yang menawar Rp5.000 per kilogram untuk cabai besar. “Ada yang mau beli Rp5.000 per kilogram tapi diantarkan ke pasar,” katanya.

Kondisi tersebut justru berbanding terbalik dengan data Dinas Perdagangan Kabupaten Bone. Menurut Kadis Perdagangan Kabupaten Bone, Muliati, harga cabai yang dijual di pasar mencapai Rp55.000 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp50.000 per kg pada sepekan lalu.

“Dari pemantauan harga di Pasar Sentral Palakka dan pasar tradisional lainnya, harga cabai segar yang dulunya Rp50.000 naik menjadi Rp55.000 per kilogram. Begitu juga dengan cabai jenis lainnya, yang naik rata-rata 10 persen,” kata Muliati. [Sindo]

Related posts