Isi materi di Aceh, Kedubes AS puji kebebasan pers di Indonesia

Isi materi di Aceh, Kedubes AS puji kebebasan pers di Indonesia
Atase Kebudayaan dari Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat untuk Indonesia, Karen Schinnerer (kanan) menerima plakat dari Ketua Komema, Rahmat Saleh pada kegiatan Training Manajemen Radio Berbasis Dayah dan Radio Dakwah se-Aceh pada Selasa (12/12) di Hotel Mekkah, Banda Aceh. (Ist)
--Ads--
loading...

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Atase Kebudayaan dari Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat untuk Indonesia, Karen Schinnerer memuji kebebasan pers di Indonesia yang mampu menjaga keberagaman, perbedaan dan toleransi yang jauh lebih beragam dibandingkan dengan kondisi di Amerika Serikat.

Hal itu disampaikan Karen Schinnerer saat memberikan materi pada Training Manajemen Radio Berbasis Dayah dan Radio Dakwah se-Aceh pada Selasa (12/12) di Hotel Mekkah, Banda Aceh.

Pelatihan itu diikuti 50 peserta yang berasal dari institusi radio se-Aceh baik yang berada di dayah, radio komunitas, radio swasta, termasuk radio publik lokal yang konsen dengan materi syiar Islam.

Ads

Maka, Karen berpesan kepada para jurnalis profesional di Indonesia untuk selalu memberikan informasi secara jujur, fakta dan aktual.

“Kalian juga memiliki peluang untuk memberikan informasi dan pesan kepada publik dari sudut pandang yang berbeda, tapi sesuai tanggung jawab sebagai jurnalis,” katanya.

Namun, Karen juga menjelaskan bahwa kebebasan pers di Amerika Serikat sangat dihargai, dimana first amandement menjadi payung hukum tertinggi yang melindungi kebebasan warga untuk berpendapat dan berekspresi.

“Di Amerika Serikat, kami sangat berkomitmen terhadap kebebasan pers, dan sebagai masyarakat yang demokratis dan terbuka kami sangat mendorong untuk memberikan penilain terhadap informasi yang didapatkan,” jelasnya.

Ketua panitia, Rahmat Saleh yang juga alumni International Visitor Leadership Program (IVLP) 2015, mengatakan pelatihan ini bertujuan membekali peserta untuk lebih memahami tata kelola siaran radio secara profesional agar mampu menghasilkan program dakwah dengan format yang inovatif, variatif dan kemasan yang mampu menjangkau pendengar dengan efektif.

Ketua Komunitas Aceh Melek Media (Komema) tersebut juga berharap setelah pembekalan, para praktisi radio mampu me ciptakan isi program siaran dakwah yang lebih beragam, kreatif dan inovatif.

“Materi dakwah tidak selalu harus dipahami secara sempit, dan kemasan program dakwah juga tidak melulu harus berbentuk ceramah, sangat banyak cara untuk mengemas konten dakwah supaya lebih menarik dan tepat sasaran,” ungkap Rahmat yang juga Dosen Ilmu Komunikasi Unsyiah.

Untuk diketahui, kegiatan tersebut dibuat oleh Kedubes Amerika Serikat untuk Indonesia bersama Komunitas Muda Melek Media (Komema) dengan bekerjasama dengan Prodi Ilmu Komunikasi Unsyiah, Komisi Penyiar Indonesia (KPI), serta Ikatan Alumni Ilmu Komunikasi. [Aidil Saputra]