Derita Hidrosefalus, anak usia 2 tahun asal Abdya ini butuh bantuan

Derita Hidrosefalus, anak usia 2 tahun asal Abdya ini butuh bantuan
Salpuan, menggendong Miftahul Jannah memperlihatkan kondisi anaknya kepada BFLF Abdya, Minggu (4/3). (Kanal Aceh/Jimi Pratama)
--Ads--
loading...

Blangpidie (KANALACEH.COM) – Miftahul Jannah, gadis mungil berkulit putih berusia 2 tahun ini setiap harinya terus melawan penyakit cairan otak yang dideritanya sejak berusia sembilan bulan.

Walaupun masih tinggal di rumah neneknya, kedua orang tua Miftahul Jannah terus melakukan upaya pengobatan untuk penyembuhan anaknya, meskipun kesulitan keuangan.

Miftahul Jannah adalah putri pertama dari pasangan Fakcrurazi (26) dan Salpuwan (21) warga Gampong Padang Panjang, Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya.

Ads

Minggu (4/3), Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Barat Daya bersilaturrahmi dengan Miftahul, yang sebelumnya BFLF Aceh Barat Daya mendapatkan informasi tersebut dari Ratna.

Miftahul menderita cairan otak atau dalam istilah kesehatan disebut dengan Hidrosefalus sejak bulan Juli 2017.

Fakcrurazi mengisahkan kepada BFLF Aceh Barat Daya, bahwa Miftahul sudah  pernah melaksanakan operasi di RSUZA Banda Aceh pada tahun 2017.

Namun, sebelum dirujuk ke RSUZA, Miftahul dirawat di RSUD Teungku Peukan Abdya dan sempat mengalami koma selama tiga hari.

Saat BFLF Abdya hadir ke rumah Miftahul, bersama Bendahara Umum, Ela Amiranda, Ketua Bidang Pendampingan Pasien dan Transportasi, Sifral Jamil para anggota dan relawan Icha Zinger, Ayyu Aycon, Wardiati, Putra Fahmi, Fathur Rahman, Yonna Novita, Ratna,  Rahmaniati, Irma Yunida, melihat kondisi fisik Miftahul sangat lemah dan pucat.

Disamping itu, Miftahul sangat susah jika digendong oleh orang lain, sehingga hanya boleh digendong oleh ibunya dan neneknya.

“Niat hati ingin bermain dan bercengkerama dengan kami yang berhadir di rumahnya, namun apa daya, karena kondisi badan sangat lemah yang dikarenakan banyak selang mulai dari kepala sampai perut masih tertanam di dalam tubuh anak yang masih sangat berwajah mungil tersebut,” kata Ela Amiranda.

Pada April 2018 mendatang, Miftahul diharuskan untuk kembali ke RSUZA Banda Aceh guna mendapatkan perawatan, dikarenakan kepala Miftahul masih terdapat banyak benjolan-benjolan besar.

Ayah Miftahul, Fakcrurazi mengatakan, Miftah selain menderita penyakit cairan di otak, juga mengalami penyakit alergi jantung.

“Disamping mengidap penyakit cairan di otak, pasien juga mengalami penyakit alergi paru-paru. Jadi, penyakit didalam tubuh anaknya ini sudah bertimpa-timpa. Bayangkan saja di usia yang bahkan belum seberapa, anak ini harus melawan berbagai macam penyakit yang dideritanya,” ujarnya.

Anjuran dokter untuk mendapatkan perawatan terbaik harus dituruti oleh keluarga, demi sembuhnya sang buah hati mereka. Namun hal tersebut terkendala faktor ekonomi, sementara Fakcrurazi hanya berprofesi sebagai buruh biasa.

“Buruh saat ada perkerjaan membangun rumah, sementara penghasilan hanya cukup untuk makan sehari-hari. Sedangkan istri hanya seorang ibu rumah tangga yang tidak memiliki penghasilan,” kata Fakcrurazi.

Bahkan, Fakcrurazi mengaku uang ongkos biaya perjalanan ke Banda Aceh yang tahun 2017 kemaren saja belum lunas dibayar.

“Uang ongkos mobil tahun lalu aja belum terbayar karena belum ada uang. Apalagi dengan kondisi sekarang, saya belum ada kerja apa-apa,” ucapnya lirih.

Fakcrurazi pun mengatakan, bahwa ia sangat butuh bantuan dari para dermawan guna menyembuhi penyakit yang diderita oleh anaknya itu. [Jimy Pratama]