Ekskavasi di Lamuri, peneliti temukan artefak berusia 700 tahun lalu

Ekskavasi di Lamuri, peneliti temukan artefak berusia 700 tahun lalu
Dokumentasi - Mahasiswa Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unsyiah memperlihatkan pecahan keramik yang ditemukan di situs Kerajaan Islam Lamuri, Desa Lamreh, Kecamatan Masjid Raya Kabupaten Aceh Besar. (Kanal Aceh/Fahzian Aldevan)
--Ads--
loading...

Jantho (KANALACEH.COM) – Ekskavasi (penggalian) di situs Lamuri yang dilakukan oleh tim peneliti asal Aceh dan Malaysia yang berlangsung sejak Sabtu (3/3) hingga selesai pada Kamis (15/3) menemukan artefak berusia lebih kurang 700 tahun lalu.

Arkeolog Aceh sekaligus ketua tim ekskavasi penelitian situs Lamuri dari Aceh, Dr Husaini Ibrahim mengatakan lokasi penggalian yang dilakukan di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar itu menemukan keramik dan tembikar pecahan-pecahan kecil.

“Umumnya, temuan dari hasil penggalian adalah keramik dan tembikar dalam keadaan pecahan-pecahan kecil. Dari hasil analisis, artefak tersebut telah berumur lebih kurang 700 tahun lalu,” kata Husaini kepada Kanalaceh.com, Sabtu (17/3).

Ads

Kata Husaini, selama penelitian salah satu temuan yang paling penting ialah sebuah mangkuk yang dibuat dari keramik. Ketika ditemukan posisinya terbalik dan masih utuh.

Keramik ini ditemukan pada kedalaman 50 centimeter di bawah tanah. Dari hasil analisis diketahui keramik ini diproduksi dari Vietnam pada abad ke-14 dan 15 Masehi.

Dia menambahkan bahwa selain keramik Vietnam, keramik China yang diproduksi pada masa Dinasti Song Selatan dan Yuan abad ke-13 Masehi juga dijumpai ketika penggalian. Kemudian, tembikar dari Asia Selatan juga dijumpai yang diduga berasal dari periode yang sama.

“Keramik dan tembikar ditemukan dalam keadaan pecahan-pecahan kecil. Ada yang bisa direkonstruksi dan ada yang tidak bisa direkonstruksi bentuknya,” katanya.

Dari hasil penemuan dikawasan situs Lamuri dan pengumpulan data, kata Husaini, dapat dipertanggung jawabkan karena ekskavasi yang mereka lakukan berstandar Internasional.

“Semua data direcord secara sistemasis, kita selama ini hanya mengatakan bahwa Lamreh adalah pusat kerajaan Lamuri. Namun tidak memiliki bukti kuat. Kini kita menjumpai keramik insitu dari hasil penggalian yang menegaskan bahwa di Lamrehlah pusat Kerajaan Lamuri. Pernyataan ini juga dipertegas oleh temuan ratusan batu nisan di situs ini yang diperkirakan milik raja-raja Lamuri,” katanya.

Temuan ini akan menjadi sumber utama bahwa Aceh di bawah kerajaan Lamuri telah menjalin hubungan bilateral dengan negara-negara luar seperti China, Vietnam, Thailand, India dan juga negeri-negeri Arab sejak ratusan tahun dahulu.

Ribuan pecahan keramik yang tersebar di atas permukaan tanah memberi gambaran betapa besarnya perdagangan yang telah wujud di Lamreh pada abad ke-13 sampai 15 Masehi.

“Kita berharap suatu saat nanti pemerintah dapat menetapkan Lamreh sebagai situs cagar budaya yang dilindungi. Situs ini tidak hanya sebagai bukti sejarah semata, juga sebagai jati diri bangsa Aceh. Bahwa Aceh telah menjalin hubungan baik dengan berbagai negara luar sejak seribu tahun terakhir,” harapnya. [Fahzian Aldevan]

Ads