Pemahaman masyarakat tentang bencana masih minim

--Ads--
loading...

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Di Indonesia, bencana yang terjadi terus meningkat mulai dari banjir, gempa, kebakaran maupun longsor. Namun, seiring dengan itu, pemahaman masyarakat terhadap bencana itu sendiri sangat minim.

Hal itu dikatakan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho saat mengisi Bimbingan Teknis bersama Puluhan wartawan dalam penanggulangan bencana di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Selasa (25/9).

“Wilayah Indonesia sangat rawan gempa, baik dari subduksi maupun sesar yang ada didaratan, misalnya saja seperti saat gempa di Pidie Jaya,” Jelas Sutopo.

Ads

Di Aceh, kata Sutopo, begitu rawan dengan bencana banjir yang terjadi dibeberapa wilayah kabupaten di Aceh. Penyebabnya salah satunya ialah banyaknya ilegal logging di hutan Aceh.

“Banyak hutan yang dibakar dengan sengaja kemudian ilegal logging dan kejahatan lainnya yang menyebabkan bencana banjir,” ujarnya.

Padahal ada beberapa kawasan yang tidak pernah terjadi banjir, namun daerah itu, kata Sutopo jika hujan turun bencana banjir akan terjadi.

Sementara itu Staf Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Mata Ie, Habdi, mengatakan bahwa Indonesia rawan dengan bencana apalagi bencana Tsunami seperti yang terjadi pada 26 Desember 2004 silam di Aceh.

“Maka dari itu kita terus melakukan sosialisasi tentang pentingnya pemahaman penanggulangan bencana,” ujar Abdi.

Seperti bencana tsunami di Aceh pada 2004 silam sebenarnya bukanlah tsunami yang pertama di Aceh. “Tetapi jauh sebelumnya sudah terjadi beberapa kali terjadi tsunami itu menurut hasil penelitian,” tuturnya.

Salah satu untuk mengantisipasi bencana Tsunami di Aceh sendiri adanya suara peringatan (Sirene) yang bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat.

“Artinya setiap tanggal 26 setiap bulannya akan dilakukan percobaan secara ril,” katanya.

Maka dari itu, Abdi mengingatkan jika ada masyarakat yang mendengar suara sirine agar tidak panik dan tetap tenang.

Acara Bimtek sendiri akan berlangsung hingga 27 September mendatang yang nantinya akan diisi dengan berbagai materi tentang bencana, seperti jurnalisme peliputan bencana oleh Ahmad Arif (Kompas) dan tentang Fotografi bencana akan diisi oleh Adek Berry (AFP).

Selain itu adanya pelatihan langsung bagaimana belajar pemasangan tenda, dapur umum, pertolongan pertama dan trauma healing, pengunaan GPS dan belajar melakukan evakuasi. [Fahzian Aldevan]