Unsyiah siapkan konsorsium kebencanaan di Indonesia

Rektor Unsyiah: Saatnya pemuda bergerak di sektor ekonomi kreatif
Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Ristekdikti, Dr Muhammad Dimyati didampingi oleh Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Prof Samsul Rizal mengunjungi stan yang ikut memeriahkan acara Asean Student Entrepreneurship Network Convention (ASENet) di gedung AAC Dayan Dawood, Kamis (15/3). (Humas Unsyiah)

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Universitas Syiah Kuala bersama Universitas Tadulako (Untad) Sulawesi Tengah dan Universitas Mataram (Unram) Nusa Tenggara Barat menyampaikan inisiatif konsorsium pengembangan dan penguatan kapasitas perguruan tinggi dalam penanggulangan bencana yang berbasis sains dan teknologi (saintek).

“Kami telah beraudiensi dengan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Prof Mohamad Nasir guna menyampaikan konsorsium pengembangan dan penguatan untuk Saintek,” kata Rektor Unsyiah, Prof Samsul Rizal dalam siaran tertulis yang diterima, Senin (18/3).

Ia menjelaskan dalam pertemuan yang turut dihadiri Rektor Untad, Prof Mahfudz dan Rektor Unram, Prof Lalu Husni, pihaknya mendorong desentralisasi Saintek terhadap isu kebencanaan di Indonesia.

Ads

“Desentralisasi ini dapat dilakukan dari berbagai bidang, seperti penyiapan sumber daya manusia (SDM), penyediaan sarana prasarana riset, penyelenggaraan program akademik, hingga pelatihan yang relevan terkait kebencanaan,” katanya.

Ia mengatakan dengan upaya yang dilakukan tersebut daerah rawan bencana dapat melakukan upaya mitigasi dan pengurangan risiko bencana berbasis pengetahuan secara berkelanjutan, termasuk di dalamnya Provinsi Aceh yang rentan terhadap bencana alam, seperti gempa, banjir hingga tsunami.

“Pertemuan ini merupakan inisiatif dari universitas di daerah bencana, termasuk Unsyiah yang berusaha terus memberikan kontribusi membangun Indonesia sebagai bangsa yang berketahanan,” katanya.

Unsyiah terus berupaya menjadi ujung tombak Indonesia dalam mitigasi bencana, terutama di bidang tsunami yang dibuktikan dengan berdirinya pusat riset tsunami dan mitigasi bencana Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) di kawasan Ulee Lheue, Banda Aceh.

Pusat riset ini telah menjadi Pusat Unggulan Iptek binaan Kemenristekdikti serta menjadi rujukan para peneliti dunia.

“Kita akan berkolaborasi dengan Untad, Unram, serta universitas lainnya di Indonesia, serta memperkuat kerja sama dengan universitas luar negeri yang selama ini telah bekerja sama dalam penelitian,” katanya.

Menristekdikti Prof. Mohamad Nasir mengapresiasi gagasan dari tiga universitas tersebut dan dirinya konsorsium tersebut dapat diperluas dengan melibatkan universitas serta perguruan tinggi lainnya yang berada di daerah rawan bencana. [Rand/Antara]

Ads