Lhokseumawe (KANALACEH.COM) – Pemerintah Kota Lhokseumawe menegaskan komitmennya untuk memprioritaskan keterlibatan tenaga kerja lokal dalam proyek strategis pembangunan Onshore Receiving Facility (ORF) untuk pengolahan minyak dan gas dari Blok Andaman, khususnya dari Sumur Tangkulo 1.
Wali Kota Lhokseumawe, Sayuti Abubakar, menyampaikan bahwa sedikitnya 80 persen tenaga kerja permanen yang akan mengoperasikan ORF harus berasal dari masyarakat Lhokseumawe atau Aceh secara umum.
“Kami meminta agar masyarakat lokal menjadi bagian utama dari proyek ini. Mereka harus dipersiapkan sejak dini melalui pelatihan teknis yang sesuai dengan kebutuhan industri,” tegas Sayuti dalam keterangannya yang dikutip, Kamis, 17 Juli 2025.
Baca: Lhokseumawe Ditetapkan sebagai Pusat Pengolahan Migas dari Blok Andaman
Ia juga mendorong agar biaya pelatihan ditanggung oleh kontraktor pelaksana dengan persetujuan SKK Migas.
Menurut Sayuti, keterlibatan tenaga kerja lokal bukan hanya soal manfaat ekonomi, tetapi juga bagian dari strategi sosial untuk membangun rasa memiliki masyarakat terhadap proyek migas berskala nasional ini. Ia mencontohkan pengalaman serupa di Blok A, Aceh Timur, di mana pemuda lokal dikirim untuk pelatihan di Cepu sebelum dipekerjakan oleh perusahaan Medco secara permanen.
Tak hanya pada posisi teknis, Sayuti juga mendorong keterlibatan warga dalam berbagai posisi pendukung, seperti pengamanan, katering, kebersihan, dan tenaga outsourcing lainnya. Ia menegaskan bahwa proses rekrutmen harus dilakukan secara transparan dan melibatkan Dinas Penanaman Modal dan Tenaga Kerja (DPMPTSP & NAKER) Kota Lhokseumawe.
Sebagai bentuk kesiapan, Pemko Lhokseumawe telah merancang program pelatihan kerja sektor migas yang dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Kota (APBK). Tujuannya adalah untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja lokal agar mampu bersaing dalam industri energi yang semakin kompetitif.
Lebih lanjut, Sayuti juga mendorong pelibatan kontraktor lokal dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), khususnya PT Pembangunan Lhokseumawe (PTPL), dalam proses Engineering, Procurement, and Construction (EPC) guna memperkuat dampak ekonomi di tingkat daerah.
Presiden Direktur Mubadala Energy Indonesia, Abdulla Bu Ali, menyambut baik semangat kolaborasi yang ditunjukkan oleh Pemerintah Aceh dan Pemko Lhokseumawe. Ia menyatakan komitmennya untuk bekerja sama erat dengan seluruh pemangku kepentingan demi keberhasilan proyek.
Sementara itu, Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, menekankan pentingnya pengelolaan sektor migas yang bertanggung jawab dan berpihak pada kesejahteraan rakyat. Ia juga mendukung rencana menjadikan Lhokseumawe sebagai lokasi shorebase untuk proyek-proyek migas lepas pantai di wilayah utara Aceh.
Dengan keterlibatan maksimal tenaga kerja lokal, proyek ORF diharapkan menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru di Lhokseumawe dan sekitarnya.






