Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Cabang olahraga Arung Jeram Kota Banda Aceh gagal berangkat mengikuti Pra Pekan Olahraga Aceh (Pra PORA) yang diselenggarakan di Kabupaten Aceh Selatan.
Kegagalan ini disebabkan oleh minimnya dukungan anggaran dari KONI Banda Aceh, yang hanya memberikan Rp10 juta.
Pra PORA Aceh Selatan dijadwalkan berlangsung selama 10 hari, dan menjadi ajang penting bagi setiap daerah untuk memperebutkan tiket menuju PORA 2026 di Kabupaten Aceh Jaya.
Tim Arung Jeram Banda Aceh sejatinya telah menyiapkan 7 atlet Putra 1 Pelatih, 1 Manager 2 offisial, yang telah berlatih secara intensif selama beberapa bulan terakhir.
Ketua Cabor Federasi Arung Jeram Indonesia Pengcab Kota Banda Aceh, Wardhana Prasetya menyatakan bahwa dengan anggaran yang diberikan, pihaknya tidak dapat menanggung seluruh biaya keberangkatan dan operasional tim selama pertandingan berlangsung.
“Dana Rp10 juta itu sudah harus mencakup transportasi, konsumsi, administrasi, akomodasi, hingga penginapan selama 10 hari. Jelas tidak cukup untuk 11 orang. Akhirnya, dengan berat hati kami memutuskan tidak berangkat,” ujar Wardhana dalam keterangannya, Kamis, 13 Oktober 2025.
Ia menambahkan bahwa proposal anggaran telah diajukan kepada KONI Banda Aceh sesuai kebutuhan rill tim, namun alokasi yang diberikan sangat tidak proporsional dibandingkan total anggaran pembinaan olahraga KONI Banda Aceh yang di peruntukan untuk persiapan Pra Pora tahun ini hampir Rp1 miliar.
“Kami merasa kecewa, karena selama latihan dan persiapan Pra Pora para atlet sudah bekerja keras. Mereka berlatih setiap hari, bahkan menggunakan dana pribadi untuk latihan(selama latihan tidak 1 persen pun di biaya KONI Banda Aceh). Tapi saat kesempatan tampil datang, justru pupus karena dana dr Koni tidak layat dan cukup, seharusnya anggaran hibah hampir Rp1 miliar wajib fokus pada Pra Pora bukan untuk yang lain,” tambahnya.
Menurutnya, kejadian ini mencerminkan kurangnya perhatian dan pemerataan pembinaan terhadap seluruh cabor Pra Pora di Banda Aceh.
Ia berharap Pemko melalui Dispora harus mengawasi KONI Banda Aceh agar lebih terbuka, transparan dan bijak dalam mengelola anggaran hibah agar setiap cabor mendapatkan porsi yang adil dan bisa berlaga di event Pra Pora
“Kalau pola seperti ini terus berulang, sulit bagi olahraga Banda Aceh untuk berkembang, apa lagi target Pora juara umum itu mimpi di siang bolong Atlet butuh dukungan nyata, bukan sekadar janji,” tegasnya.






