Persiraja Dua Kali ‘Dikerjai’ Duo Yaksa, Jaya Hartono Geram Soal Tambahan Waktu

Pelatih Persiraja Jaya Hartono. (ist)

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Persiraja Banda Aceh harus menelan pil pahit dalam dua laga krusial di putaran ketiga Liga Pegadaian Championship 2025/2026. Tim berjuluk Laskar Rencong itu dua kali ‘dikerjai’ akibat gol lawan yang tercipta jauh melewati batas waktu tambahan yang diberikan wasit.

Pertama terjadi saat menghadapi Adhyaksa FC di Banten, Minggu, 12 April 2026. Dalam laga yang berlangsung sengit, Persiraja harus mengakui keunggulan tuan rumah dengan skor 4-3 setelah kebobolan pada menit ke-99. Padahal, wasit hanya memberikan tambahan waktu selama tujuh menit.

Insiden serupa kembali terulang saat Persiraja menjamu Garudayaksa FC di Stadion H. Dimurthala, Banda Aceh, Minggu, 19 April 2026. Saat itu, Persiraja sudah di ambang kemenangan dengan skor 2-1, sebelum akhirnya lawan menyamakan kedudukan menjadi 2-2 lewat gol Frydek pada menit ke-103. Tambahan waktu dalam laga tersebut sejatinya hanya 10 menit.

Hasil itu membuat Persiraja gagal mengamankan poin penuh dan harus puas berbagi angka di kandang sendiri.

Pelatih Persiraja, Jaya Hartono, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Ia menilai keputusan wasit terkait tambahan waktu tidak masuk akal dan merugikan timnya.

“Waktu yang diberikan oleh wasit aneh. Sudah habis tapi tetap ditambah terus menerus. Kita bukan hari ini saja dikerjain, kemarin (lawan Adhyaksa) kita juga dikerjain,” ujar Jaya Hartono saat jumpa pers, Minggu, 19 April 2026 di stadion H. Dimurthala.

Ia bahkan mempertanyakan arah sepak bola jika kejadian serupa terus berulang.

“Terus mau apa sepak bola kita ini? Kita sudah berjuang mati-matian, tapi kita hanya dikalahkan oleh waktu,” lanjutnya.

Menurut Jaya, seharusnya laga kontra Garudayaksa sudah berakhir pada menit ke-100. Namun, pertandingan tetap dilanjutkan hingga akhirnya lawan mampu mencetak gol penyeimbang.

“Itu kalau belum terjadi gol, itu akan diteruskan mungkin (pertandingannya), jadi kami sangat kecewa,” tegasnya.

Dua hasil ini jelas menjadi pukulan bagi Persiraja yang tengah berjuang menjaga konsistensi di fase krusial kompetisi. Kini, evaluasi tak hanya tertuju pada performa tim, tetapi juga pada kepemimpinan pertandingan yang dinilai kontroversial.

Related posts