Tanggul dari Lumpur
Sejumlah ekskavator tampak sibuk mengeruk tumpukan material lumpur dan sisa batang pohon yang berserakan di tempat fasilitas umum di Desa Meunasah Raya, Meunasah Mancang, Dayah Usen hingga Meunasah Bie. Di sisi lain, deretan dump truck silih berganti mengangkut lumpur menuju tepian sungai.
Menurut warga aktivitas ini mulai masif sejak awal Ramadan tahun ini. Material lumpur yang terkumpul dari pembersihan fasilitas umum tidak dibuang begitu saja, melainkan dialihfungsikan menjadi benteng pertahanan alami di sepanjang bibir Sungai Krueng Meureudu.
Gundukan tanah dan lumpur itu kini membentuk struktur tanggul darurat dengan ketinggian mencapai 2 meter lebih dari permukaan air sungai. Pembangunan benteng penahan ini menjadi krusial mengingat intensitas curah hujan yang kerap tak menentu, yang berpotensi menaikkan debit air sungai hingga meluap ke permukiman penduduk.
“Lumpur ini dibawa ke pinggir sungai untuk jadi tanggul. Pertengahan puasa kemarin sudah mulai,” kata Mahdi M Daud (63) seorang warga Dusun Palu Kuta, Desa Meunasah Raya, Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya, Minggu, 4 April 2026.
Jarak tanggul lumpur itu ke permukiman warga hanya sekitar 80 meter. Warga menilai jika tidak ada pengamanan tambahan, timbunan tanah itu akan kembali mencair saat hujan dan mengancam permukiman.

Pantauan di lokasi, pengangkutan material dilakukan secara berkala. Ekskavator bekerja memindahkan sedimen lumpur yang bercampur dengan sampah organik ke bak truk. Setelah terisi penuh, truk-truk tersebut bergerak merayap di atas tanah menuju titik penimbunan di pinggiran sungai.
Di sana, material dipadatkan sedemikian rupa agar kuat menahan tekanan air saat debit sungai meningkat. Langkah ini jadi strategi agar lumpur bisa digunakan untuk memperkuat tanggul.
Kepala Posko Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) wilayah Aceh Safrizal ZA yang juga menjabat sebagai Dirjen Bina Adwil Kemendagri membenarkan, bahwa tanggul tersebut terbuat dari tanah lumpur untuk sementara waktu.
Hal itu jadi langkah pemulihan darurat agar bisa menahan debit air Sungai Krueng Meureudu yang melintasi Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua.
“Lumpur dari proses pembersihan fasilitas umum ini ditumpuk dan dibentuk menjadi bantaran sungai,” kata Safrizal saat dikonfirmasi, Rabu, 1 April 2026.
Tanggul Jebol
Belum genap sebulan berdiri, tanggul darurat di bantaran Sungai Krueng Meureudu kembali jebol. Struktur yang dibangun dari lumpur sisa banjir akhir 2025 itu tak mampu menahan derasnya aliran air saat hujan deras mengguyur wilayah hulu.
Material lumpur terbawa arus dan kembali masuk ke rumah-rumah sehingga membuat warga dari 13 desa di Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua mengungsi lagi pada Rabu malam, 8 April 2026. Kepanikan warga yang sejak awal merasa waswas kini terbukti nyata.
Bupati Pidie Jaya, Sibral Malaysi mengatakan kondisi Sungai Krueng Meureudu belum sepenuhnya pulih. Sedimen lumpur dari banjir bandang sebelumnya membuat pendangkalan sungai meningkat drastis, menurunkan kapasitas tampung air.
Saat hujan tinggi, aliran dari pegunungan tak tertampung, memicu luapan ke permukiman. “Pendangkalan sungai membuat Krueng Meureudu tidak mampu menampung volume air hujan,” kata Sibral, Kamis, 9 April 2026.
Ia menegaskan, kondisi ini tak bisa lagi diatasi dengan tanggul darurat. Penanganan menyeluruh dari pemerintah pusat menjadi mendesak. Permintaan itu ditujukan langsung ke Presiden Prabowo Subianto, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Satgas Penanganan dan Rehabilitasi Rekonstruksi (Satgas PRR).
“Kami meminta BNPB, satgas bencana, dan Presiden untuk segera melakukan penanganan Sungai Krueng Meureudu. Ini sangat mendesak,” kata Sibral.
Pembangunan tanggul dari lumpur disebut hanyalah solusi sementara. Tanpa normalisasi sungai dan rekayasa permanen, risiko banjir bagi warga yang tinggal di bantaran Sungai Krueng Meureudu akan terus mengintai setiap musim hujan.






