Warga Lawan Lumpur Sendiri
Upaya pembersihan lumpur pascabencana di Aceh terus dikebut. Satgas PRR sudah memiliki program Cash For Work atau padat karya tunai yang dimulai di Aceh Tamiang sejak Februari lalu dan Pidie Jaya pada pertengahan Maret.
Program ini merekrut warga desa untuk ikut serta membersihkan lumpur dari fasilitas di lingkungan mereka seperti jalan, gorong-gorong, tempat ibadah hingga irigasi dengan imbalan per orang Rp165 ribu. Hal itu juga diperkuat dengan alat berat yang disediakan.
“Untuk tahap awal kita tetapkan 30 hari. Area pembersihan mencakup fasilitas publik, termasuk jalan, saluran air, dan lingkungan umum,” ujar Safrizal.
Hingga akhir Maret, dari total target 476 lokasi pembersihan di Aceh, sebanyak 396 lokasi telah diselesaikan. Artinya, masih ada 86 lokasi yang dalam proses penanganan lumpur.
Safrizal mengakui untuk pembersihan rumah warga tidak masuk dalam skema cash for work karena alasan ruang privat. Pemilik rumah dibebankan untuk membersihkan lumpur secara mandiri karena telah diberi dana insentif.
“Mereka yang memperoleh dana insentif berupa rehabilitasi rusak ringan dan rusak sedang agar membersihkan dalam rumahnya secara mandiri,” kata Safrizal.
Ia juga beralasan banyak pekerja tidak berani masuk ke rumah warga untuk pembersihan, sehingga pihaknya hanya menunggu pemilik untuk membersihkan lalu lumpur dari dalam rumah diletakkan ke pekarangan.
Nantinya alat berat dan truk akan mengangkut lumpur dari pekarangan rumah warga untuk ditempatkan di bantaran sungai.
“Pekerja ini tidak berani masuk rumah karena ini wilayah privasinya pemilik rumah. Tapi taruh material lumpur itu di luar rumah agar bisa dibersihkan oleh petugas yang ada,” katanya.
Meski begitu Safrizal mengakui proses pembersihan lumpur cukup berat dan sudah melibatkan semua pihak sejauh ini, meskipun hasilnya belum maksimal.
“(Mengakui lumpur belum bersih sepenuhnya) belum. Berat Pak. Tapi wilayah-wilayah vital sudah kita bersihkan,” klaim Safrizal.
Penulis: Dani Randi
Liputan ini atas dukungan AJI Indonesia
