Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Aceh pada Februari 2026 mencapai 156,23 ribu orang atau bertambah 7 ribu lebih orang dibandingkan Februari 2025.
Kenaikan tersebut turut mendorong Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Aceh naik dari 5,50 persen menjadi 5,88 persen.
Berdasarkan Rilis Berita Resmi Statistik BPS Aceh per 5 Mei 2026, peningkatan pengangguran terjadi di tengah menurunnya jumlah angkatan kerja dan berkurangnya penyerapan tenaga kerja di provinsi tersebut.
Sepanjang Februari 2025 hingga Februari 2026, jumlah penduduk usia kerja di Aceh tercatat mencapai 4,19 juta orang atau bertambah 66,51 ribu orang. Namun, dari total tersebut, angkatan kerja justru turun 47,91 ribu orang menjadi 2,66 juta orang.
Sementara itu, jumlah penduduk yang bekerja tercatat sebanyak 2,5 juta orang atau berkurang 55,34 ribu orang dalam setahun terakhir.
Penurunan paling besar terjadi pada kategori pekerja paruh waktu yang berkurang 77,22 ribu orang menjadi 721,13 ribu orang. Jumlah setengah pengangguran juga turun 50,81 ribu orang menjadi 267,27 ribu orang. Di sisi lain, pekerja penuh justru naik 72,68 ribu orang menjadi 1,51 juta orang.
“Sepanjang Februari 2025– Februari 2026, penyerapan tenaga kerja berkurang sebanyak 55,34 ribu orang,” kata Kepala BPS Aceh Agus Andria dalam keterangannya, Rabu, 6 Mei 2026.
Secara historis, jumlah pengangguran Aceh sempat berada di angka 148,80 ribu orang pada Februari 2025 sebelum melonjak menjadi 156,23 ribu orang pada Februari tahun ini. Ini menjadi angka tertinggi dalam dua tahun terakhir, meski masih lebih rendah dibandingkan Februari 2022 yang mencapai 150,18 ribu orang dengan TPT 5,97 persen.
BPS juga mencatat pengangguran lebih tinggi terjadi pada laki-laki dengan TPT 6,09 persen, dibanding perempuan sebesar 5,51 persen pada Februari 2026.
Berdasarkan wilayah, TPT di perkotaan tercatat sebesar 8,03 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan perdesaan yang berada di level 4,34 persen. Angka ini mengindikasikan kawasan perkotaan di Aceh masih menghadapi tantangan lebih besar dalam menyerap tenaga kerja.
