Lawan Hoaks Pascabencana, Komdigi Perkuat Peran Kreator Informasi Lokal di Aceh

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Pemerintah menilai informasi publik menjadi elemen krusial dalam mempercepat pemulihan pascabencana di Sumatra, khususnya Aceh.

Komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat disebut menjadi kunci membangun kepercayaan publik sekaligus memastikan program rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan tepat sasaran.

Kepala Posko Wilayah Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra (Satgas PRR), Safrizal ZA, menegaskan pentingnya membangun jembatan komunikasi yang mampu mendekatkan pemerintah dengan masyarakat terdampak.

Menurut Safrizal, keterlibatan masyarakat secara langsung dalam ekosistem komunikasi publik diperlukan agar informasi pemulihan tidak berhenti sebagai pesan satu arah dari pemerintah.

“Melalui kegiatan hari ini, pemerintah berkeinginan mendekatkan informasi yang diberikan sedekat mungkin dengan publik,” kata Safrizal dalam Workshop Kreator Informasi Lokal: Mengemas Narasi Pemulihan Lewat Konten Kreatif yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) di Aceh, Selasa (12/5).

Ia menjelaskan, pendekatan komunikasi berbasis komunitas menjadi strategi penting untuk menjangkau masyarakat terdampak secara lebih efektif.

Namun, hal itu juga harus dibarengi dengan penguatan kapasitas kreator informasi lokal agar mampu mendukung proses komunikasi rehabilitasi dan rekonstruksi.

Safrizal menambahkan, kemampuan memproduksi dan mengemas informasi secara tepat menjadi faktor utama, bukan hanya dalam menyebarkan informasi resmi, tetapi juga menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pemerintah.

“Dalam jaringan komunikasi yang dibangun, Satgas akan memberikan informasi reguler, masyarakat juga dapat berperan aktif dengan memberikan feedback, bertanya, dan mendapatkan informasi,” ujarnya.

Direktur Komunikasi Publik Komdigi, Nunik Purwanti, menegaskan komunikasi publik pada masa pemulihan tidak cukup hanya berfungsi sebagai alat penyebaran informasi.

Menurut Nunik, pesan pemerintah akan kehilangan efektivitas jika hanya berjalan satu arah. Karena itu, pelibatan kreator informasi lokal dinilai strategis karena mereka memahami budaya, bahasa, serta kebutuhan warga di lapangan.

“Jembatan komunikasi ini diharapkan mampu menjalankan tiga fungsi krusial, yakni mendistribusikan informasi resmi kepada warga, menangkap aspirasi masyarakat di lapangan untuk disampaikan kepada pihak berwenang, serta melawan hoaks dan disinformasi,” kata Nunik.

Senada, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Aceh, Edi Yandra, menilai narasi pemulihan pascabencana membutuhkan pendekatan yang lebih humanis dan tidak hanya bergantung pada sumber resmi pemerintah.

“Narasi pemulihan tidak cukup hanya dari sumber resmi, tetapi juga butuh pendekatan yang lebih humanis dengan melibatkan komunitas lokal,” ujar Edi.

Dalam diskusi workshop, pegiat literasi digital Destika Gilang Lestari mengingatkan bahaya hoaks di tengah situasi bencana dan pemulihan. Ia mencontohkan isu tsunami di Pidie Jaya pada Desember 2025 yang sempat memicu kepanikan warga hingga menyebabkan kecelakaan.

Menurut Gilang, media dan kreator konten memikul tanggung jawab besar untuk memastikan setiap informasi yang dipublikasikan telah melalui proses verifikasi.

“Konten kreator perlu membuat konten yang mendamaikan dan bermanfaat bagi masyarakat, bukan hanya konten yang mengejar viral,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Produksi Media Sosial Indonesia.go.id, Singgih Aji Abiyuga, menekankan pentingnya pemahaman terhadap ekosistem digital bagi kreator lokal.

Ia menyebut, di era digital, kreator tidak cukup hanya mampu membuat konten menarik, tetapi juga harus memahami pola distribusi informasi, perilaku konsumsi publik, serta pentingnya literasi digital.

“Apa yang harus dilakukan di era digital adalah memahami bagaimana kerangka digital itu bekerja. Kita harus mengerti bagaimana cara kerja informasi di era digital,” kata Singgih.

Singgih menilai banyak narasi pemulihan pascabencana di Aceh yang memiliki nilai kuat, mulai dari pembangunan kembali infrastruktur, hunian sementara, fasilitas umum, hingga gotong royong warga, namun belum dikemas secara optimal menjadi konten yang menarik.

Melalui workshop ini, Komdigi berharap kreator informasi lokal di Aceh dapat menjadi penghubung efektif antara pemerintah dan masyarakat, sekaligus memperkuat narasi pemulihan yang humanis, akurat, kredibel, dan membangun harapan.

Related posts