Peralatan Pemantau Gempa BMKG di Gayo Lues Dicuri, Operasional Lumpuh

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi aksi pencurian dan perusakan peralatan pemantau gempa bumi di Shelter Site BGASI, Desa Gantung Geluni, Kecamatan Blang Pegayon, Kabupaten Gayo Lues, Aceh.

Aksi tersebut menyebabkan sejumlah peralatan vital hilang dan membuat stasiun pemantauan seismik tidak dapat beroperasi normal. Kerugian negara akibat pencurian dan perusakan itu ditaksir mencapai Rp246.442.213.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas II Aceh Selatan, Sugeng Prayitno, mengatakan kerusakan tersebut berdampak langsung terhadap kemampuan BMKG dalam memantau aktivitas kegempaan di wilayah Gayo Lues.

Menurutnya, gangguan itu juga berpotensi memperlambat penyampaian informasi kebencanaan dan peringatan dini kepada masyarakat Aceh dan sekitarnya.

“Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pintu shelter telah dirusak dan dicongkel, gembok hilang, serta sejumlah kabel instalasi dipotong secara paksa. Dari hasil identifikasi, terdapat beberapa peralatan utama yang hilang dan menyebabkan stasiun tidak dapat beroperasi sebagaimana mestinya,” kata Sugeng.

Gangguan operasional pertama kali diketahui setelah transmisi data seismik dari Site BGASI terhenti total pada Rabu (29/7).

BMKG kemudian mengirimkan tim ke lokasi untuk memastikan penyebab terhentinya transmisi. Pemeriksaan lapangan dilakukan pada Senin (3/8).

Dari hasil inventarisasi di lokasi, sejumlah perangkat utama yang berfungsi menerima dan mengirimkan data seismik ke pusat pengolahan BMKG raib.

Peralatan yang hilang di antaranya satu unit digitizer merek Quanterra (Kinemetrics) tipe Q8, satu unit modem VSAT merek iDirect tipe iQ Desktop+, dua unit baterai berkapasitas 9 Ah, serta satu set kabel panel surya berukuran 3 x 10 meter.

Selain itu, seluruh kabel instalasi internal shelter juga dilaporkan dipotong dan dirusak.

Sugeng mengatakan kerugian akibat pencurian tersebut bukan sekadar persoalan materiil. Lumpuhnya Site BGASI dinilai dapat meningkatkan risiko keselamatan masyarakat yang tinggal di wilayah rawan gempa.

“Wilayah Gayo Lues berada tepat pada lintasan Sesar Sumatera Segmen Tripa, yaitu salah satu sesar aktif dengan tingkat aktivitas kegempaan yang sangat tinggi. Segmen ini memiliki riwayat gempa merusak dan diperkirakan mampu memicu gempabumi maksimum hingga M7,4,” ujarnya.

Menurut Sugeng, ancaman gempa di wilayah tersebut telah terbukti. Pada 29 Mei 2017, gempa berkekuatan M4,9 merusak lebih dari 30 bangunan warga.

Gempa kembali mengguncang Gayo Lues pada 22 Juli 2026 dengan kekuatan M5,6. Gempa tersebut memicu kepanikan warga dan merusak sejumlah fasilitas publik, termasuk sebuah bangunan puskesmas.

“Dalam kondisi kerawanan yang tinggi seperti ini, keberadaan stasiun pemantau gempabumi sangat krusial untuk mendeteksi aktivitas seismik secara cepat dan presisi. Lumpuhnya Site BGASI memangkas kemampuan jaringan BMKG dalam menentukan parameter gempa secara cepat,” katanya.

“Keterlambatan informasi ini sangat berbahaya bagi keselamatan masyarakat,” imbuhnya.

BMKG melalui Stasiun Geofisika Kelas II Aceh Selatan telah melaporkan kasus tersebut kepada Polres Gayo Lues.

Laporan itu diterima melalui Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) Nomor LP/B/42/VIII/2026/SPKT/POLRES GAYO LUES/POLDA ACEH tertanggal 3 Agustus 2026.

Tim Reserse Kriminal Polres Gayo Lues telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Polisi kini masih melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi dan menangkap pelaku pencurian serta perusakan peralatan pemantau gempa tersebut.

Related posts