198 Bencana Terjadi di Aceh hingga Agustus, Kerugian Capai Rp155 Miliar

Kebakaran lahan di Aceh Barat. (ist)

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat 198 kejadian bencana melanda wilayah Aceh sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Agustus menjadi bulan dengan jumlah kejadian tertinggi, yakni mencapai 50 kasus.

Data tersebut merupakan rekapitulasi Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BPBA berdasarkan laporan dari 23 kabupaten/kota di Aceh.

BPBA mencatat kejadian bencana tersebut tersebar di 284 kecamatan dan 395 desa. Sebanyak 1.495 kepala keluarga (KK) atau 4.456 jiwa terdampak.

Berdasarkan catatan bulanan, jumlah kejadian bencana pada Agustus hampir dua kali lipat dibandingkan Juli yang mencatat 10 kejadian.

Setelah Agustus, jumlah kejadian terbanyak terjadi pada Maret dengan 28 kasus, Januari 26 kasus, Mei 24 kasus, Februari 22 kasus, April 20 kasus dan Juni 18 kasus.

Kebakaran menjadi jenis bencana paling banyak terjadi selama periode tersebut dengan 74 kejadian. Disusul kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebanyak 66 kejadian.

Dengan demikian, kedua jenis bencana kebakaran tersebut menyumbang 140 dari total 198 kejadian yang tercatat BPBA.

Selain itu, terdapat 24 kejadian angin puting beliung, 22 banjir, enam banjir bandang, tiga longsor, dua abrasi dan satu gempa bumi.

Untuk kejadian kebakaran dan karhutla, BPBA mencatat sekitar 478 hektare lahan terbakar sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Rangkaian bencana tersebut juga menimbulkan korban jiwa dan kerusakan. BPBA mencatat satu orang meninggal dunia dan tiga lainnya mengalami luka-luka.

Sebanyak 1.008 jiwa juga terpaksa mengungsi akibat bencana yang terjadi di sejumlah wilayah Aceh.

Dampak terhadap permukiman tercatat cukup besar. Sebanyak 369 rumah mengalami rusak berat, 110 rusak sedang dan 164 rusak ringan.

Sementara 422 rumah lainnya tercatat terdampak genangan atau terendam. Secara keseluruhan, jumlah warga terdampak mencapai 4.456 jiwa dari 1.495 KK.

BPBA memperkirakan total kerugian akibat berbagai kejadian bencana tersebut mencapai Rp155 miliar.

Kepala Pelaksana BPBA Bahron Bakti mengatakan data kebencanaan menjadi salah satu dasar penting dalam menentukan kebijakan, mulai dari pencegahan, kesiapsiagaan, penanganan darurat hingga pemulihan pascabencana.

“Data kebencanaan menjadi dasar penting dalam menentukan langkah pencegahan, kesiapsiagaan, penanganan darurat hingga pemulihan pascabencana,” kata Bahron.

Menurutnya, kecepatan dan akurasi laporan dari kabupaten/kota diperlukan agar setiap kejadian dapat segera ditindaklanjuti.

Bahron juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, menjaga lingkungan dan segera melaporkan potensi maupun kejadian bencana kepada pihak terkait.

BPBA menyatakan akan terus memperkuat koordinasi dengan BPBD kabupaten/kota, instansi terkait dan unsur kebencanaan lainnya untuk meningkatkan kapasitas penanggulangan bencana di Aceh.

Related posts