Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) terus menggenjot potensi investasi energi fosil di wilayah Aceh. Kepala BPMA Mawardi Nur menggelar pertemuan strategis dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Uni Emirat Arab (UEA) Judha Nugraha di Abu Dhabi, guna memuluskan peluang kerja sama eksplorasi minyak dan gas bumi (migas) jangka panjang.
Pertemuan tersebut berfokus pada strategi menarik pemodal asing dan membangun ekosistem hulu hingga hilir migas di Tanah Rencong. Salah satu fokus utama yang disorot adalah keberlanjutan investasi giant player asal UEA, Mubadala Energy, di kawasan cadangan gas Blok South Andaman.
“Ketika satu perusahaan berhasil mengembangkan investasinya di suatu wilayah, hal itu dapat menarik perhatian perusahaan lain dari berbagai negara. Keberhasilan Mubadala Energy di Andaman akan menjadi referensi bahwa Aceh memiliki prospek dan lingkungan investasi yang menjanjikan,” ujar Mawardi dalam keterangannya, Sabtu, 7 November 2026.
Mawardi menambahkan bahwa UEA memiliki kapasitas finansial yang luar biasa kuat serta jaringan global yang luas. Kendati demikian, karakteristik investor asal Timur Tengah tersebut sangat mengedepankan aspek kepastian hukum, kenyamanan, dan keamanan berusaha sebelum mengucurkan dana besar.
Duta Besar RI untuk UEA Judha Nugraha menyarankan agar BPMA bersama pemerintah daerah segera menyusun proposal bisnis yang komprehensif, mencakup sektor hulu hingga proyek hilirisasi. Proposal ini dinilai krusial agar penawaran kepada calon mitra usaha di UEA bersifat konkret dan siap eksekusi.
Menurut Judha, penemuan potensi cadangan gas di Wilayah Kerja (WK) South Andaman harus dijadikan momentum emas untuk membangun ekosistem industri hilir di Aceh, termasuk menghubungkan potensi sumber daya gas dengan fasilitas pengolahan di darat serta infrastruktur pendukung.
“Kerja sama investasi UEA dengan Indonesia merupakan peluang jangka panjang yang perlu dipersiapkan secara serius. Aceh memiliki potensi besar untuk mengambil peran utama dalam kemitraan strategis ini,” tegas Judha.
Apabila pengembangan fase awal terbukti komersial, peluang revitalisasi dan pemanfaatan fasilitas pengolahan di darat—seperti kawasan Kilang Arun—dapat direalisasikan sebagai bagian dari skema jangka panjang. Hal tersebut tentunya membutuhkan kajian teknis serta perhitungan keekonomian yang matang.
Mawardi optimistis bahwa kedekatan kultural antara Indonesia dan UEA, khususnya Aceh yang kental dengan nilai keislaman dan ketimuran, menjadi modal sosial yang kuat dalam mempererat kerja sama ekonomi kedua pihak.
“Ikhtiar yang kita lakukan hari ini akan memberikan dampak besar bagi masa depan. Dibutuhkan konsistensi, proses, dan kerja keras untuk merespons setiap tantangan investasi di sektor energi,” pungkas Mawardi.







