Sejarah Lhokseumawe

Sejarah Lhokseumawe
PETA Lhokseumawe yang dilampirkan seorang Kapten Laut Belanda, Von Schmidt, dalam bukunya yang berjudul Telok Semawe De Beste Haven op Atjeh's Noordkust (Teluk Semawe Pelabuhan Terbaik di Pesisir Utara Aceh) pada tahun 1887.

Pada masa Kerajaan Aceh Darussalam, Lhokseumawe atau Teluk Seumawe memiliki kedudukan yang penting dalam kerajaan sebab rajanya mempunyai pertalian darah langsung dengan sultan sebagaimana diungkapkan oleh G. P. Tolson dalam tulisannya mengenai Aceh.

Kota Lhokseumawe adalah sebuah kota di Provinsi Aceh, Indonesia. Kota ini berada persis di tengah-tengah jalur timur Sumatera. Berada di antara Banda Aceh dan Medan, sehingga kota ini merupakan jalur vital distribusi dan perdagangan di Aceh.

Pada zaman lampau, daerah ini lebih dikenal dengan nama Teluk Samawi sebab erat kaitannya dengan sejarah Samathar (Sumatra/ Samudra).
Para ahli purbakala menyebutkan bahwa manusia telah menghuni daerah ini sejak zaman batu. Ini dibuktikan dengan penemuan kerang sampah dapur (Kjokkenmoddinger) yang berasal dari masa mesolithikum (Zaman Batu Tengah) di Lhokseumawe.

Namun awal kemashuran Teluk Samawi yang sesungguhnya adalah sejak ia menjadi sebuah bandar dan dermaga yang ramai di jalur pelayaran Selat Malaka pada zaman Kerajaan Samudra Pasai/Sumatra (abad ke-13 M s/d ke-16 M).

Dalam masa itulah, daerah ini secara khusus menjadi daerah pemukiman para pelaut dari Kerajaan Samudra Pasai yang terkenal sebagai pengembang Islam ke seluruh Asia Tenggara. Hal ini telah dibuktikan oleh adanya situs-situs pemakaman kuno di mana beberapa nama ahli pelayaran dan navigator disebutkan pada batu nisan makam.

Dari itu dapat diyakini pula bahwa berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkaitan dengan pelayaran serta manajemen pelabuhan telah dikembangkan di daerah ini sejak zaman tersebut, dan telah menjadi suatu sumbangan penting bagi peradaban Islam.

Pada masa Kerajaan Aceh Darussalam, Lhokseumawe atau Teluk Seumawe memiliki kedudukan yang penting dalam kerajaan sebab rajanya mempunyai pertalian darah langsung dengan sultan sebagaimana diungkapkan oleh G. P. Tolson dalam tulisannya mengenai Aceh.

Dalam tulisan yang terbit pada 1880, Tolson mengatakan, “Di antara semua raja- raja negeri yang berada di pesisir utara dan timur Aceh, satu-satunya raja yang mengalir darah kesultanan Aceh di dalam nadinya hanyalah Tengku Maharaja Teluk Samawi, dan ia secara resmi memegang kekuasaan atas negeri-negeri di sepanjang pesisir timur, serta bertindak sebagai wakil sultan dalam mengumpulkan pembayaran pajak mereka.”

Sebagai sebuah pelabuhan di tepi laut Selat Malaka, Teluk Seumawe juga telah dipuji-puji oleh seorang Kapten Laut Belanda, von Schmidt, sebagai sebuah daerah pelabuhan yang aman, nyaman, tenang dan sehat, dan secara keseluruhan merupakan pelabuhan terbaik di pesisir utara Aceh, dan sama sekali tidak kalah dengan pelabuhan Cilacap.

Baca Selengkapnya: Mapesa Aceh

Komentar Facebook
Ucapan pelantikan Gubernur dan wakil gubernur dari kantor keuangan