Enam Pesawat Tujuan KNIA Mendarat di Aceh

--Ads--
loading...

BANDA ACEH (KANALACEH.COM) : Enam penerbangan tujuan Kuala Namu International Airport (KNIA) terpaksa mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) di provinsi Aceh, Sabtu (24/10). Keenam pesawat tersebut masing-masing, tiga dari maskapai penerbangan Lion Air, dan tiga dari maskapai Garuda Indonesia.

Pelaksana tugas kepala divisi operasional Bandara SIM, Surkani, Sabtu (24/10) menerangkan, keenam pesawat tersebut, mendarat di bandara pada pukul 10.00 WIB, dan baru dapat diberangkatkan kembali ke KNIA pada pukul 13.13 WIB.

Surkani menyebutkan, keenam pesawat tersebut masing-masing adalah JT 300, yang berangkat dari Jakarta tujuan KNIA, GA 180 dari Jakarta ke KNIA, GA 194 dari Jakarta ke KNI, JT 979 dari Surabaya ke KNIA, dan yang terakhir adalah GA 184 tujuan Jakarta ke KNIA.

Ads

Saat ditanya mengenai jumlah penumpang yang diangkut oleh keenam pesawat tersebut, Surkani menjelaskan bahwa pihaknya belum melihat kembali manifest pesawat dari masing-masing maskapai.

Petugas maskapai Lion Air di Bandara SIM, Djoni Zulfan kepada  membenarkan mengenai mendaratnya pesawat pihaknya di bandara tersebut. “Iya, ada tiga pesawat hari ini, yang semestinya mendarat di Bandara Kuala Namu,” ujarnya.

Salah seorang penumpang dari maskapai Lion Air, Parlindungan Purba kepada Waspada menceritakan, dirinya bersama ratusan penumpang lainnya, berangkat jam 06.00 WIB, dari Bandara Sukarno Hatta di Jakarta, namun saat akan hendak mendarat di Bandara Kuala Namu, petugas kru pesawat mengatakan bahwa pesawat tidak dapat mendarat, dikarenakan jarak pandang hanya 500 meter.

Setelah berputar-putar selama tiga kali diatas bandara KNIA, kata Parlindungan Purba, yang juga merupakan Ketua II DPD RI asal pemilihan Sumatera Utara ini, akhirnya pilot pesawat memutuskan untuk mendaratkan pesawat di Bandara SIM, di Aceh.

“Setelah beberapa kali berputar, akhirnya kami mendarat disini, sebab kata pilot bahan bakar tidak mencukupi, dan jarak pandang hanya 500 meter di bandara,” ujarnya. [Hendro Saky]