Mahasiswa: LGBT Tidak Sesuai Dengan Norma dan Budaya

Mahasiswa: LGBT Tidak Sesuai Dengan Norma dan Budaya
photo: Putra Rizki Youlan Radhianto (facebook)
--Ads--
loading...

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) yang saat ini sedang marak diperbincangkan merupakan suatu hal yang merusak moral bangsa dan berbenturan dengan norma yang ada di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala (FISIP Unsyiah), Putra Rizki Youlan Radhianto.

“Dilihat dari ilmu sosial, LGBT yang di Indonesia tidak sesuai dengan norma dan budaya,” kata Putra yang merupakan mahasiswa Ilmu Sosiologi Unsyiah, Kamis (28/1).

Menurut Putra, LGBT tidak akan diterima di lingkungan Indonesia dan khususnya Aceh karena masyarakat mayoritas muslim, dan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai islami. Apalagi, LGBT ini merupakan nilai-nilai baru yang ada di lingkungan masyarakat.

Ads

“LGBT adalah nilai-nilai baru yang terbentuk di Eropa. Jadi, susah di terima di lingkungan masyarakat Indonesia dan Aceh,” ujarnya.

baca juga : Gay dan Lesbian di Aceh Bakal Dicambuk 100 Kali

Untuk memimalisir, harap Putra, adalah dengan cara penguatan norma di dalam lingkungan keluarga setelah itu di lingkungan masyarakat. “Penguatan normanya bisa dilakukan dengan sosialisasi penyadaran, pendekatan islamiah, zikir, tausyiah, dan sebagainya,” ungkapnya.

loading...

Hal senada juga dikatakan Ketua Himpunan Mahasiswa Sosiologi (HIimasio) Unsyiah, Hendra Gunawan, ia mengatakan LGBT merupakan pola penyimpangan perilaku yang tidak sesuai karena Indonesia, khususnya Aceh menganut budaya timur, bukan budaya barat.

“LGBT muncul karena akibat lemahnya kontrol keluarga sehingga individu lepas atau bebas dan mencari kenyamanan sendiri yang dimana kenyamanan itu malah menyimpang dari norma-norma masyarakat,” ungkap Hendra.

Agar hal ini tidak berkembang lebih jauh, Hendra menyebutkan semua pihak harus menganggap ini sebagai permasalahan bersama sehingga timbul rasa kepedulian untuk mengantisipasi. “Pemerintah juga harus bekerjasama dengan seluruh elemen masyarakat,” ucapnya.

Lebih lanjut Hendra menambahkan, cara-cara untuk meminimalisir hal ini di lingkungan akademisi, yaitu membuat pendekatan secara persuasif ke siswa-siswa sekolah hingga tataran mahasiswa dengan cara penyuluhan atau diskusi terbuka. Keluarga juga harus menjadi filter dan benteng untuk mengurangi permasalahan sosial. (Aidil Saputra)

Ads