Gunakan kursi roda, WNI ditolak naik Etihad Airways

Etihad Airways. (Reuters)
--Ads--
loading...

Jakarta (KANALACEH.COM) – Seorang WNI asal Solo batal terbang ke kantor PBB di Jenewa. Ia ditolak oleh maskapai Etihad Airways karena dianggap tak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.

Dwi Ariyani, seorang penyandang disabilitas seharusnya terbang ke markas PBB di Jenewa pada Sabtu (3/4). Dwi akan menghadiri International Disability Alliance untuk mengikuti training pendalaman CRPD (Konvensi hak-Hak Penyandang Disabilitas). Perempuan berkacamata ini tiba di Bandara Soekarno Hatta pukul 20.00 WIB dari Solo.

“Jam 22.00 WIB saya check in di counter Etihad dan memberitahu petugas check in bahwa saya butuh kursi roda khusus untuk masuk ke kabin pesawat. Petugas mengiyakan dan melakukan proses check in saya untuk penerbangan Etihad dengan nomer penerbangan EY 471 ke Abu Dhabi dan lanjut dengan EY 51 ke Jenewa,” cerita Dwi Ariyani seperti ditulis dalam kronologi oleh suaminya, Yonnasfi Jambak.

Ads

“Pada pukul 00.20 pagi, saya diminta boarding dan diantar petugas ground staff untuk masuk ke dalam pesawat. Setelah masuk pesawat, beberapa menit kemudian saya ditanya pimpinan kru pesawat apakah saya bisa mengevakuasi diri saat terjadi kecelakaan pesawat, saya sampaikan saya akan butuh untuk dibantu. Beberapa saat kemudian datang lagi Airport Operations officer, Bapak Abrar, dan beliau menanyakan apakah saya bisa berjalan, saya sampaikan bisa dengan pegangan tetapi sangat pelan,” tulis Dwi.

Namun jawaban Abrar membuat Dwi kaget. Menurutnya, Dwi tidak bisa terbang karena tak membawa pendamping. Dwi lalu memutuskan bertanya kepada pimpinan kru kabin yang pertama menanyainya, apa alasan mereka hingga ia tidak bisa naik pesawat.

“Kembali dia menegaskan karena saya tidak bisa melakukan evakuasi sendiri, mereka meminta saya untuk turun dari pesawat. Saya sudah menjelaskan bahwa saya sering pergi sendiri dan tidak masalah, tetapi mereka tetap beralasan ini adalah peraturan keamanan pesawat dan mereka minta saya untuk turun dari pesawat,” ujarnya.

Yonnasfi Jambak, suami Dwi juga membenarkan, istrinya sudah sering bepergian sendirian, meskipun ia penyandang disabilitas. “Iya, istri saya sudah biasa bepergian tanpa pendamping. Bisa dicek dari paspor perjalanannya,” ucap Yonnasfi saat dihubungi, Rabu (6/4).

Yonnasfi mengaku kecewa dengan sikap maskapai tersebut. Ia mendukung sikap istrinya yang  membuat petisi melalui change.org. Melalui petisi tersebut Dwi mengaku tak marah atau dendam. “Tapi agar tak ada lagi penyandang disabilitas lain yang diperlakukan semena-mena seperti yang saya alami,” tulisnya. [Viva]