Pemuda Muhammadiyah Aceh kecam kericuhan di Masjid Baitul Izzah

Ilustrasi khotbah salat Jumat. (Tempo)
--Ads--
loading...

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Pemuda Muhammadiyah Aceh mengecam pihak-pihak yang melatarbelakangi dan berada di balik terjadinya kericuhan dalam pelaksanaan salat Jumat (20/5) di Masjid Baitul Izzah, Krueng Manee, Aceh Utara yang membuat terganggunya kenyamanan dan ketenangan jamaah dalam beribadah.

Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Aceh, Munawar Syah mengatakan, perbuatan onardan ricuh dalam masjid saat berlangsungnya ibadah adalah tindakan yang sangat jauh dari nilai-nilai kebaikan dan akhlak karimah.

“Peristiwa ini menambah daftar masjid di Aceh yang dalam pelaksanaan salat Jumat diganggu dan diricuhkan oleh sekelompok orang yang memaksakan kehendak untuk mengubah tatacara pelaksanaan ibadah yang sudah menjadi amalan di masjid tersebut dengan menyebutnya batil dan tidak sah,” kata Munawar dalam siaran pers yang diterima Kanalaceh.com, Sabtu (21/5).

Ads

Ia menilai kondisi semacam ini di Aceh tak bisa dibiarkan. Pertentangan dalam persoalan tatacara ibadah sampai terjadinya kericuhan, keributan dan perebutan masjid adalah suatu bentuk intimidasi atas nama menegakkan sunnah dan bentuk kekerasan baru dalam beragama.

“Rasulullah Saw tidak mengajarkan kita seperti ini. Kita umat Islam tidak boleh terpecah belah karena soal-soal yang tidak substansial semacam ini, masih banyak tanggung jawab keumatan yang harus dipikirkan secara ikhlas dan diperjuangkan dengan sungguh-sungguh,” sesalnya.

Lebih lanjut, Munawar Syah menegaskan bahwa aksi keributan, kericuhan dan perebutan masjid seperti ini jelas-jelas merusak citra Islam sebagai rahmatan lil’alamin. “Hasil Muzakarah Alim Ulama beberapa waktu yang lalu tentang soal-soal yang dipertentangkan ini sudah ada keputusannya, dan tidak ada pelaksanaan ibadah yang batil sehingga membuat tidak sahnya ibadah, khususnya dalam pelaksanaan prosesi ibadah di hari Jumat.”

Malah yang menonjol, kata Munawar, yaitu sekelompok orang yang beralasan menjalankan hasil muzakarah tersebut secara keliru memahaminya dan membuat aksi-aksi pemaksaan kehendak dengan mengerahkan massa mengusik kenyamanan ibadah Muslim lainnya.

Maka, tambah Munawar, Pemuda Muhammadiyah Aceh mengajak umat untuk merawat ukhuwah dengan saling bertasamuh dalam memaknai perbedaan paham keagamaan dan tatacara ibadah sepanjang memiliki dalil tuntunan ibadah.

“Kepada pemerintah dan kepala daerah agar bijak melihat persoalan ini dari berbagai aspek maslahat sehingga tidak sepihak dalam mengambil keputusan yang dapat mencederai ukhuwah dan rasa keadilan,” ujarnya.

Ia juga meminta MPU Aceh dan ulama, dan pimpinan ormas Islam agar mengimbau semua komponen umat Islam di Aceh untuk menjaga ukhuwah dengan tidak perlu mempertentangkan pelaksanaan tatacara ibadah di masjid selama bukan sesuatu yang batil.

“Sepanjang berdasarkan tuntunan ibadah yang benar dan tidak menyalahi sunnah, tidak masalah,” kata Munawar. [Sammy/rel]