Hasrat Abusyik benamkan kemiskinan

Roni Ahmadf atau yang sering disapa Abusyik. (Kanal Aceh/Ridha)
--Ads--
loading...

GAYA bicaranya blak-blakan, tidak suka beretorika. Orang-orang memanggilnya Abusyik. Sorot matanya tajam. Bertubuh sedang tapi otot-ototnya kekar.

Pria itu terkadang menyeruput kopi dalam-dalam, menikmati rasa damai. Gerakan tangan kanannya tampak pelan, saat ia meneguk isi gelas itu. Seakan memberi penegasan bahwa tak ada lagi perang yang membuncah.

Kini saatnya membangun negeri dengan serius. Pelan, tapi percaya diri. Juga sebatang rokok kretek, sesekali didekatkan ke celah dua bibirnya. Tanpa dinyalakan. Juga tak terdengar kerik jangkrik di sana.

Ads

Dia adalah Roni Ahmad. Roni Ahmad adalah mantan pejuang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang sangat ditakuti dan diburu oleh aparat keamanan, saat Aceh berkecambuk dulu. Jauh dari kesan seorang kakek.

Dikalangan mantan kombatan, Abusyik dikenal konsisten dengan perkataannya, tegas, berpenampilan sederhana dan dekat dengan masyarakat. Tak heran, jika kemudian jebolan camp Tripoli itu dipercayai memimpin Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Pidie, beberapa tahun silam.

Aceh sudah damai. Semenjak itu pula, pria yang hobbi memasak ini, tak lagi mengendong senjata dan ‘bermain’ dengan buasnya peluru di setiap pertempuran. Abusyik memilih menjadi petani. Berkelana diantara pematang sawah nan hijau.

Bekas prajurit sayap militer didikan langsung Wali Nanggroe, Alm. Hasan Muhammad di Tiro itu juga menjauh dari aroma ingar bingar dunia perpolitikan tanah rencong.

“Mencalonkan diri sebagai calon Bupati Pidie bukan keinginan pribadi saya, tapi masyarakat meminta saya untuk maju sebagai calon Bupati Pidie, modal kebersamaan inilah yang menguatkan hati saya, saya merasa terpanggil karena mereka tidak rela perjuangan dulu menjadi sia-sia,” ujar Roni Ahmad, dalam bincang-bincang dengan Kanalaceh.com di Balai Posko Rakyat Pidie untuk Pemenangan Roni Ahmad, di Sigli, Senin (20/6) malam.

Mesti tak pernah terlibat langsung dalam urusan Pemerintahan, bukan berarti Abusyik tidak punya cita-cita. Ternyata, ada sebuah hasrat yang terpendam di sanubarinya, yakni mengabdi dan melakukan perubahan, hingga rakyatnya tidak terbenam dalam kemiskinan.

Apalagi kini, gema dukungan para mantan kombatan bersama rakyat Pidie semakin menguat untuknya. “Hati saya resah, karena ada tanggungjawab moral kepada rakyat, termasuk menyatukan kembali persaudaraan sesama eks kombatan GAM. Bagi saya haram jual diri, tapi ini adalah permintaan masyarakat dan dorongan dari para eks kombatan,” ungkapnya, mempertegas alasan dirinya maju sebagai kandidat calon Bupati Pidie, periode 2017-2022 mendatang.

“Saya terbuka untuk siapapun, ikutilah yang betul, sekalipun saya ini berbuat salah jangan ikuti juga. Perkataan harus selaras dengan perbuatan,” tambahnya.

“Niat kita harus bersih untuk membangun Pidie yang lebih baik. Keadilan dan kesejahteraan harus tercipta untuk rakyat,” sebutnya lagi.

Baru setengah jam duduk, tiba-tiba Posko tersebut kedatangan sejumlah tamu. Mereka adalah anak-anak muda, yang berasal dari sebuah desa di kawasan Timur Pidie. Mereka bukan hendak berdebat, tapi menawarkan diri, bergabung dengan tim Pemenangan Roni Ahmad for Pidie Satu.

Bergegas, sang juru bicara perwakilan itu, menyatakan dukungan, termasuk memobilisasi pengumpulan KTP dan siap bekerja untuk memenangkan Roni Ahmad.

“Terimakasih yang setinggi-tingginya atas dukungan ini. Ya, meskipun KTP sudah terpenuhi tapi dukungan KTP dari masyarakat tetap kita butuhkan. Sudah berulangkali juga saya sampaikan kepada saudara-saudara yang bekerja di lapangan bahwa dukungan KTP tetap kita terima. Walaupun besok jadwal pemilihannya, tapi malam ini tetap kita terima KTP,” urai Abusyik.

Kepada mereka, pria yang sewaktu di Malaysia memakai “sandi” Muhammad Roni itu, juga menuturkan komitmennya melahirkan program peduli anak yatim piatu secara kontinyue.

“Bantuan untuk anak-anak yatim piatu harus menjadi perioritas. Insya Allah ke depan kita upayakan membina sampai mereka mampu mandiri,” jelasnya.

Roni Ahmad pernah merasakan bagaimana getirnya kehidupan yatim piatu. Ia berkisah, masa-masa pahit manisnya hidup saat dirinya ditinggal orang tua, untuk selama-lamanya. Ayah beliau menghadap sang Ilahi Rabbi, saat usia Roni Ahmad belum genap setahun.

“Saat itu usia saya masih 7 bulan. dimasa kanak-kanak dulu, saya juga terkadang harus makan di rumah tetangga, dari satu rumah penduduk ke rumah lainnya. Bahkan sampai hari ini pun saya masih merasakannya. Merasakan bahwa saya adalah milik masyarakat,” ungkap sang mantan Panglima, dengan suara parau.

Roni Ahmad melirik salah seorang eks kombatan yang hadir malam itu. Ia menghela nafas dan membisu sekejab. Disela-sela suasana hening, Mulyadi MA, support team Posko Pemenangan Roni Ahmad, mengambil alih, tapi hanya berdurasi 5 detik. Ia mempersilahkan tamu menikmati potongan semangka merah segar, suguhan dari sang tuan rumah. “Silahkan dinikmati, rasanya pasti manis,” ajak Mulyadi, lembut.

Abusyik menimpali, “Oooya, perlu juga saya sampaikan meskipun sudah beratus kali saya sampaikan kepada kawan-kawan. jangan sekali-kali ada dibenak kita untuk menyerang lawan politik, sebab hal itu akan menghabiskan energi saja. tidak ada yang untung dan jangan buat musuh. tapi ciptakanlah lawan politik menjadi kawalahan dengan pendekatan yang kita jalankan. caranya bagaimana? dekati rakyat dan tebarkan kasih sayang,” pintanya.

Ia juga menyampaikan agenda Buka Puasa dan Do’a Bersama untuk para Syuhada di Posko Rakyat, yang akan digelar Jumat, 24 Juni 2016. “Ini undangan terbuka, dari rakyat untuk rakyat,” terang Abusyik.

Menurut informasi, hajatan mulia tersebut bakal dihadiri sejumlah eks GAM Tripoli, Forum Nelayan Pidie dan Forum khatib se-kabupaten Pidie. Acara tersebut juga didukung penuh oleh basis relawan seperti; Jaringan Pemenangan Roni Ahmad dan Panglima Meurakyat, CAS Pidie, Krak Pidie, Solidaritas Aneuk Abusyik, Rakan Abusyik, RELASI, KOMPAS, MASDA Pidie dan Relawan Perempuan Pidie.

“Kita tidak bertumpu pada mesin politik sebab kita mencalonkan diri melalui jalur independen. Rakyatlah yang menjadi pendukung kita. Berbaurlah dengan rakyat, kita akan membangun Pidie bersama-sama,” tegasnya.

Roni Ahmad yang bertampang ramah dengan kulit wajah hitam itu dikenal berhati lembut. Ia sosok yang enak diajak bicara. Meski baru kenal, pria asli Pidie itu langsung bisa akrab dan bercerita panjang lebar tentang kisah perjalanan hidupnya.

Mulai dari kisah heroik saat bergerilya dulu, riwayatnya saat mengecap ilmu militer di camp Tajurra, Tripoli Libya, hingga hobinya yang suka memasak dan bercocok tanam.

“Loen nakeuh sidroen petani. Bagi saya tidaklah hina berprofesi sebagai petani,” ujarnya, dengan logat bahasa Aceh yang kental.

“Sawah di Pidie sangat luas, dan sektor pertanian merupakan sumber potensial perekonomian masyarakat kita. Biarkan negara lain maju dengan berbagai industrinya tapi kabupaten Pidie harus berjaya dengan sumber alamnya sendiri. Insya Allah nanti, sektor pertanian, irigasi dan kehutanan akan kita benahi secara serius,” tukas Abusyik.

Saat ditanya siapa sosok yang akan mendampinginya sebagai Cawabup? Abusyik mengaku sudah mengantongi beberapa figur yang menurutnya cerdas, bersih, visioner dan bertalenta. “Sudah, sudah ada…Insya Allah dalam waktu dekat kita deklarasikan,” kata Ayah empat orang anak itu.

Sejenak Ia memperbaiki letak cincin bermata akik, dijari manis tangan kanannya,sembari berujar, “Jangan ada yang memaksa ya, semua kalian ini cucu-cucu Abusyik. Jadi jangan coba-coba mendesak Abusyik untuk memutuskan Cawabup malam ini,” pekik Roni Ahmad, setengah bercanda. Dan spontan, puluhan tamu pun, tertawa lepas.

Bicaranya memang blak-blakan, lazimnya orang Aceh tempo dulu. Tegas tapi ramah. Sesekali Ia juga suka berguyon dan meledakkan tawa. Ya, perilakunya memukau banyak orang. Selalu saja ada pembicaraan segar jika berbincang dengannnya, persis sesegar semangka non biji, yang disuguhkan di Posko Rakyat Pidie, malam itu. [Ridha]

Ads