Masyarakat pedalaman Aceh Barat minta pembangunan jembatan segera diselesaikan

Ilustrasi pembangunan jembatan. (Antara)
--Ads--
loading...

Meulaboh (KANALACEH.COM) – Masyarakat berdomisili di pedalaman Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh mendesak pemerintah mempercepat penyelesaian pembangunan abutment jembatan Ule Raket untuk membebaskan warga terisolir.

Samsul, warga Desa Suak Awe, Kecamatan Pente Ceureumen, di Meulaboh, Minggu (4/12) mengatakan, akibat lambatnya pengerjaan proyek pembangunan jembatan itu masyarakat terpaksa harus mengunakan rute jalan lingkar.

“Selisih waktu, itu bisa lebih 20 kilometer atau empat jam perjalanan apabila dibandingkan dengan rute Jembatan Ule Raket, khususnya bagi kami yang beraktivitas dari dan ke wilayah kota Meulaboh,” katanya.

Ads

Abutment jembatan Ule reket terletak di wilayah Desa Sawang Teubee, Kecamatan Kaway VXI itu menghubungkan menuju Kecamatan Pante Ceureumen, Panton Reu, sebagian kontruksi jembatan itu hancur diterjang banjir yang berulang dan kini dalam proses pengerjaan.

Untuk menuju ratusan desa yang dipisahkan oleh sungai besar itu, kini masyarakat harus mengunakan jembatan gantung yang jauh dari lokasi sebelumnya, namun selisih waktu cukup menghambat aktivitas warga.

Apalagi kendaraan roda empat, itu harus menempuh perjalanan jalan lingkar pegunungan yang penuh dengan sisi kebun kelapa sawit, rentang waktu perjalanan dengan roda empat sekitar 4-5 jam karena harus lewat dari Kecamatan Meureubo.

Meski demikian ada satu jembatan gantung tali kabel yang selama ini dipaksakan untuk dilintasi kendaraan roda empat, namun pengendara yang lebih memilih keselamatan tidak mengunakan jembatan di Desa Jeumpa, Kecamatan Kaway XVI.

“Kami tidak paham bagaimana sumber dana dan siapa yang mengawasi proyek itu, tapi yang jelas pekerjaan ini terlihat sangat lamban, harusnya bersifat mendesak seperti ini dipercepat, cukup jera kami disini pulang pergi ke Meulaboh,” tegasnya.

Sementara itu Ketua DPRK Aceh Barat Ramli, SE menambahkan, pihaknya juga telah turun memantau pekerjaan proyek tersebut dan memang mereka menemukan tanda-tanda bahwa pekerjaan itu cukup lamban dikerjakan.

“Bahkan tidak ada pengawas, entah siapa saat kami turun melihat. Kami mendesak pihak eksekutif mempercepat penyelesaian itu. Ini sudah lama ya, jangan maen-maen dengan pembangunan itu,” tegasnya.

Ramli mengatakan, pemerintah patut diapresiasi telah melakukan upaya-upaya untuk pembangunan jembatan itu, namun sangat disayangkan adalah kinerja kontraktor pelaksana menurut warga lamban, bahkan hampir habis tahun 2016.

Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini menyampaikan, pihak legislatif akan turun kembali bersama tim panitia khusus (pansus) DPRK melihat kinerja kontraktor dan meminta instansi terkait tidak membiarkan pekerjaan itu seenak mereka.

Pembangunan itu mengunakan dana Otonomi Khusus (Outsus) Aceh, akan tetapi Kabupaten Aceh Barat sebagai penerima manfaat juga tidak hanya duduk manis, sudah banyak upaya dilakukan bersama-sama agar Jembatan Ule Raket diperbaiki.

“Dinas terkait, itu jangan diam saja melihat ada pekerjaan yang tidak siap-siap seperti itu. Dalam pandangan dewan juga sudah pernah kita sampaikan hal ini tapi belum ada tindak lanjutnya,” demikian tegas Ramli. [Antara]

Ads