Di daerah ini harga cabai rawit tembus Rp200 Ribu/kg

  • Whatsapp
cabe rawit. (datariau.com)

Cirebon (KANALACEH.COM)  – Harga cabai rawit merah di pasar tradisional di Kota Cirebon telah menembus Rp 200 ribu per kg. Kondisi itu dikeluhkan pedagang maupun pembeli.

Hal itu terungkap saat Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Cirebon menggelar sidak ke tiga pasar tradisional di Kota Cirebon. Yakni Pasar Perumnas, Pasar Pagi, dan Pasar Kanoman.

Harga cabai rawit merah yang menembus hingga Rp 200 ribu per kg itu ditemukan di Pasar Pagi. Di pasar tersebut, harga cabai rawit merah sebelumnya mencapai Rp 60 ribu per kg. “Harga cabai rawit merah Rp 200 ribu per kg ini sudah terjadi sejak seminggu terakhir ini,” kata seorang pedagang sayuran di pasar tersebut, Sarah.

Sarah menuturkan, tingginya harga cabai rawit merah itu membuat omsetnya menurun drastis. Pasalnya, hampir tidak ada konsumen yang mau membeli komoditas tersebut.

Hal senada diungkapkan pedagang sayuran lainnya di Pasar Pagi, Marfuah. Bahkan, kini dia mengaku tidak lagi menjual cabai rawit merah karena sepinya peminat komoditas tersebut sejak harganya melonjak tinggi. “Para pembeli akhirnya memilih membeli cabai jenis lain,” terang Marfuah.

Namun, sejak seminggu terakhir, harga cabai jenis lain juga ikut mengalami kenaikan signifikan meski tak setinggi cabai rawit merah. Untuk cabai merah keriting, harganya kini naik dari Rp 40 ribu per kg menjadi Rp 70 ribu per kg.

Berbeda dengan di Pasar Pagi, cabai rawit merah di Pasar Perumnas masih dihargai Rp 120 ribu per kg. Harga tersebut mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp 60 ribu per kg. “Harga cabai rawit ini mahal katanya karena banyak petani yang gagal panen akibat musim hujan,” terang seorang pedagang di Pasar Perumnas, Ida.

Seperti keluhan pedagang sayuran di Pasar Pagi, Ida juga mengaku kini nyaris tak ada konsumennya yang mau membeli cabai rawit merah. Karenanya, para pedagang sayuran di Pasar Perumnas banyak yang memilih tak lagi menjual cabai rawit merah.

Sementara itu, seorang petani cabai yang ditemui di Pasar Pagi, Sunardi, mengungkapkan, di musim penghujan ini, banyak cabai milik petani yang cepat membusuk. Selain itu, tanaman cabai juga banyak yang rusak sehingga gagal panen. “Tanaman cabai juga rentan terkena penyakit,” keluh petani asal Kabupaten Kuningan itu.

Sunardi menyatakan, meski harga cabai di pasaran melonjak sangat tinggi, namun hal itu tidak bisa dinikmati petani. Pasalnya, banyak tanaman cabai yang rusak dan mati sehingga produksinya berkurang.

Sunardi menyebutkan, harga cabai di tingkat petani mencapai Rp 60 ribu – Rp 70 ribu per kg. Cabai itu dijual kepada Bandar yang datang langsung ke rumah petani cabai.

Asisten Daerah Perekonomian dan Pembangunan Kota Cirebon, Yoyon Indrayana mengungkapkan, tingginya harga cabai di pasaran telah membuat daya beli masyarakat jadi menurun. “Masyarakat akhirnya belinya ketengan (eceran),” tutur Yoyon.

Sementara, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cirebon, Abdul Madjid Ikram menjelaskan, dalam sidak itu, pihkanya memantau sepuluh komoditas di pasar tradisional di Kota Cirebon. Selain cabai, juga  bawang, daging ayam, daging sapi, minyak goreng dan lainnya. “Rata-rata harga seluruh komoditi itu tak terlalu melonjak. Yang fluktuatif terutama cabai rawit merah,” tandas Abdul. [Republika]

Related posts