'(ist)
--Ads--

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Ikatan Mahasiswa Syeikh Riman (IKAMASRI) yang terdiri dari mahasiswa asal Subulussalam di Banda Aceh meminta pemerintah Kota Subulussalam lebih memperhatikan cagar budaya alam yang berada di wilayah Subulussalam.

Di tengah pesatnya  era globalisi modren sekarang yang masuk ke Indonesia, mengakibatkan mudahnya memudar cagar budaya Indonesia termasuk Subulussalam.

“Seperti kita ketahui Cagar Budaya adalah daerah kelestarian hidup masyarakat dan dilindungi UU dari bahaya kepunahan sesui UU Nomor 10/ 2010, bahwasanya cagar budaya adalah warisan budaya yang bersifat kebendaan seperti bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya dan kawasan cagar budaya yang ada di darat dan di air yang memang perlu di lestarikan keberadaanya sebagai bukti sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan sebagai pusat kajian tentang sejarah masa lampau,” kata Ketua Ikamasri Muzirul Qadhi melauli rilis yang diterima, Minggu (11/9).

Ads

Ia menjelaskan, banyak cagar budaya yang berada di kota Subulussalam yang memang perlu perhatian khusus dari pemerintah kota Subulussalam sebagai bukti sejarah yang dapat dipelajari oleh anak cucu kelak.

Seperti Makam Raja Maha yang berada di Pasar Belo yang kini hampir dimakan oleh abrasi sugai lae alas, cagar budaya kerajaan Sultan Daulat yang masih menyimpan banyak sejarah yang belum terekplose dan Makam syeik Riman yang berada di desa Namo Buaya yang juga masih buntu akan sejarah.

Namun, jika cagar budaya tersebut tidak di lestarikan, kata dia, maka semakin lama akan hilang, dan akan ada klaim-klaim dari daerah lain, seperti Makam syekh Hamzah Fansuri yang sempat di klaim oleh masyarakat Aceh Besar dan Malaysia beberapa waktu lalu.

“Pemerintah kota Subulussalam harus membuat suatu program tentang cagar budaya Subulussalam seperti sosialisasi tentang sejarah Subulussalam, atau membuat program muatan lokal (mulok) tentang sejarah cagar budaya Subulussalam kepada anak SD dan SMP yang berada di Subulussalam,” ujarnya. [Randi/rel]

Ads