Bur Telege, wisata Negeri di atas awan Takengon

Pemandangan kota takengon dari lokasi wisata bur telege atau bur Gayo. (VIVA/Dani Randi)

Tanah Gayo, Aceh, bukan hanya terkenal dengan hasil alamnya berupa kopi yang berkelas. Wilayahnya yang berupa dataran tinggi menghadirkan panorama alam yang memanjakan mata, dibalut dengan kearifan lokal yang masih melekat.

Daerah yang terletak di Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, ini dijuluki sebagai Negeri di Atas Awan, karena daerahnya di dataran tinggi, dan memiliki objek wisata alam yang begitu mempesona. Salah satunya yang lagi hit di kalangan kaula muda ialah Bur Telege atau Bur Gayo.

Bur Telege terletak di Kampung Bale Bujang, Kecamatan Laut Tawar, Aceh Tengah. Berada di ketinggian 1.250 meter di atas permukaan laut. Pesona kota Takengon dan Danau Lut Tawar yang sudah populer duluan langsung bisa dinikmati dari atas ketinggian ini.

Bur Telege, merupakan destinasi wisata perbukitan, yang disulap menjadi sebuah taman dengan nuansa kekinian. Destinasi wisata ini tidak jauh dari pusat ibu kota Aceh Tengah, Takengon. Jika pengunjung berada di seputaran Kota Takengon, pasti akan tampak tulisan besar “Gayo Highland” di bukit di atas danau, itulah lokasi destinasi Bur Telege.

Lokasi ini memberikan sentuhan panorama indah kepada wisatawan. Alamnya yang eksotis ditambah beberapa fasilitas menjadikan tempat ini sebagai wahana baru untuk melepas penat.

Bukan hanya itu, lokasi ini juga menyajikan kopi khas Gayo bagi pengunjung, sembari menikmati panorama alam kota Takengon. Menyeruput hangatnya kopi dengan suasana sejuk sembari menikmati pemandangan indah merupakan sensasi yang berbeda di warung kopi.

Ketua Pemuda Bale, Isdarissinia mengatakan, Bur Telege mengandung arti puncak telaga. ‘Bur’ diartikan sebagai puncak gunung maupun bukit, sedangkan ‘Telege’ berarti telaga.

“Awalnya bukit yang terkenal dengan Tulisan Gayo High Land ini lebih dikenal dengan sebutan Bur Gayo. Namun, kami kembalikan ke nama aslinya, Bur Telege,” katanya pada beberapa waktu lalu, saat ditemui di Bur Telege.

Dia lalu menceritakan arti dari kata Bur Telege. “Disebut Bur Telege karena di atas bukit ini terdapat sebuah sumur yang menurut pendapat orang tua kami dahulu, airnya tidak pernah kering walaupun kemarau,” ujarnya.

Dikatakannya, destinasi wisata perbukitan dibuka sejak Juni 2017 lalu oleh warga sekitar untuk mendongkrak perekonomian warga.

Salah seorang wisatawan, Muhammad Fadhil mengatakan, meski menempuh perjalanan jauh dari Kota Banda Aceh, ia mengaku pemandangan di Bur Telege berbeda dengan perbukitan lain. Apalagi bisa sembari menikmati kopi Khas Gayo.

“Nikmatnya di sini bisa merasakan pemandangan dan ngopi, kopi asli Gayo,” ucapnya.

Untuk menuju lokasi ini dari Kota Takengon cukup dekat. Hanya berkisar 20 menit. Dan, pengunjung harus kembali naik ke puncaknya dengan berjalan kaki, sebelum bisa menikmati Kota Takengon dari atas perbukitan. Warga setempat memasang tarif sekali masuk Rp2.500 per orang. [Viva]

Related posts