Akademisi Unsyiah: Literasi media berkontribusi cegah radikalisme

Akademisi Unsyiah: Literasi media berkontribusi cegah radikalisme
Akademisi komunikasi FISIP Unsyiah, Rahmat Saleh, M.Comn memaparkan materi pada acara Pelatihan Harkatpuan, Rabu (21/3) di Aula Serbaguna Polda Aceh. (Ist)
--Ads--
loading...

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Binmas Polda Aceh melaksanakan kegiatan Pelatihan Harkatpuan, Program I Quick Wins Kapolri Tahun 2018 (penertiban dan penegakan hukum bagi kelompok radikal dan anti pancasila) untuk mendiskusikan langkah-langkah antisipatif terhadap gerakan radikalisme di Aula Serbaguna Polda Aceh, Rabu (21/3).

Acara yang bertemakan “Metode Komunikasi dan Bahaya Kelompok Radikal Untuk NKRI” diikuti oleh seluruh Kasat Binmas Polres/Ta, Kasat Intel dan Kasat Sabhara se-Aceh dan perwakilan Satpol PP. Acara itu dibuka langsung oleh Wakapolda Aceh.

Salah satu pemateri, akademisi komunikasi FISIP Unsyiah, Rahmat Saleh, M.Comn mengatakan, radikalisme merupakan fenomena yang membutuhkan penanganan serius dan langkah antisipatif yang cermat. Sebab, radikalisme mengincar kaum muda sebagai sasaran rekrutmen.

Ads

“Maka penting sekali untuk membekali mereka (kaum muda) dengan pemahaman yang baik dan benar tentang media dan konsumsi konten media. Literasi media berkontribusi untuk mencegah radikalisme,” uangkapnya.

Rahmat menambahkan bahwa literasi media termasuk literasi digital mutlak diperlukan mengingat Indonesia memiliki jumlah media terbesar di dunia. Data Dewan Pers menunjukan bahwa Indonesia memiliki 47.000 media. Khusus mengenai media online, dari 43.000 media hanya 234 media yang memenuhi syarat UU Pers.

“Bayangkan apa jadinya kalau sumber informasi yang begitu berlimpah kemudian disusupi dengan pemikiran-pemikian radikal yang mengancam keutuhan NKRI,” terangnya.

loading...

Menurut Rahmat, Indonesia juga termasuk pengguna media sosial yang besar dan aktif, sementara karakteristik netizen Indonesia itu ibarat orang yang sangat haus dan lapar akan informasi.

“Semuanya langsung ditelan tanpa sempat dikunyah dengan baik, dan lebih parah lagi cenderung latah untuk me-repost informasi yang belum tentu benar atau justru hoax,” paparnya.

Membumikan pancasila dengan kekinian

Dalam kesempatan itu, Rahmat yang juga pernah menjabat sebagai Komisioner Komisi Penyiaran (KPI) Aceh, mengingatkan penting sekali untuk membumikan Pancasila terutama dikalangan pelajar, mahasiswa dan pemuda.

Pacasila, lanjut Rahmat, semestinya bukan semata-mata untuk dihafal saja tetapi mampu dipahami, dihayati dan diamalkan dalam keseharian.

“Diperlukan cara-cara yang kekinian agar anak muda terutama generasi milenial dapat memahami Pancasila dengan lebih mudah dan menyenangkan,” ujarnya.

Pada sesi akhir pemaparannya, Rahmat mengungkapkan bahwa radikalisme saat ini juga harus direspon dengan merangkai pesan-pesan yang lebih kreatif untuk memunculkan deradikalisasi.

“Pesan-pesan melawan radikalisme perlu dibuat sekreatif mungkin dan menyentuh sisi sanubari anak-anak milenial karena merekalah yang menjadi sasaran empuk gerakan radikal,” demikian Rahmat.

Dalam acara tersebut juga hadir pemateri dari Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, dan Badan Kesbangpolinmas Aceh. [Aidil/rel]

Ads