Mahasiswa Asean berkumpul di Unsyiah bahas isu lingkungan

(ist)
--Ads--
loading...

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Sebanyak 70 mahasiswa dari berbagai negara di Asean, berkumpul di Gedung AAC Dayan Dawood, Darussalam, Banda Aceh, untuk mengikuti Asean Student Conference yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Syiah Kuala (BEM Unsyiah).

Konferensi ini membahas berbagai isu lingkungan yang terjadi di kawasan Asean, seperti perubahan iklim, kualitas air, dan tanah. Mahasiswa yang hadir berasal dari berbagai universitas di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unsyiah, Alfiansyah Yulianur mengapresiasi pertemuan yang dilakukan para mahasiswa ini dalam membahas berbagai isu lingkungan.

Ads

Ia berharap pertemuan ini nantinya dapat melahirkan sebuah gagasan dan rekomendasi untuk menyelesaikan beragam permasalahan lingkungan, terutama di Kawasan Asean.

“Mahasiswa harus berperan sebagai agen perubahan, kontrol sosial terhadap permasalahan lingkungan di bumi demi kehidupan masa depan lebih baik,” ujar Alfian saat membuka konferensi itu pada Selasa (17/4).

Ketua Panitia, Jasiran, mengatakan konferensi ini merupakan gagasan Unsyiah dan baru pertama kali dilaksanakan. Ia menyebutkan ada tiga negara Asean yang hadir yaitu Malaysia, Singapura, dan Thailand. Walau sebenarnya seluruh negara anggota Asean turut diundang dalam kegiatan ini.

loading...

Jasiran menambahkan konferensi ini untuk membangun kolaborasi mahasiswa Asean dalam menghadapi berbagai masalah lingkungan. Diharapkan akan lahir berbagai gagasan yang akan diserahkan sebagai rekomendasi bagi pemerintah daerah dan pusat.

“Diharapkan hasil dari konferensi ini menjadi landasan membentuk forum di tingkat Asean, sehingga dapat berkontribusi untuk bangsa dan negara,” ujar Jasiran.

Sementara itu, Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, dalam sambutannya yang dibacakan oleh Nurdin Husin, Staf Ahli Pemerintah Aceh, mengatakan bahwa Aceh merupakan salah satu daerah sentral dan memiliki peran penting dalam menghentikan laju perubahan iklim. Sebab menurutnya, Aceh memiliki hutan tropis yang masih terjaga, seperti di Leuser dan Ulu Masen.

Ia juga menekankan menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tugas bersama seluruh elemen masyarakat.

“Dunia harus bergerak menjaga ekosistem hutan agar tetap stabil. Sebab hutan merupakan sarana efektif menyerap emisi yang mengakibatkan perubahan suhu bumi,”ujarnya. [Randi/rel]

Ads