Ini alasan menyontek masih jadi tradisi di Indonesia

Ilustrasi.
--Ads--
loading...

(KANALACEH.COM) – Menjadi seorang pelajar atau mahasiswa akan dinilai membanggakan jika meraih nilai akademik tinggi. Entah karena tekanan dari pihak tertentu atau tidak tetapi mendapatkan nilai tinggi memang selalu menjadi tolok ukur kesuksesan sang pelajar atau mahasiswa.

Namun, cara mereka mendapatkan nilai akademis tinggi itu tak semuanya murni dari hasil belajar. Bahkan beberapa pihak mengaku telah menyontek demi mendapatkan hasil yang maksimal. Ironisnya, nilai yang tinggi ini tidak dibarengi dengan skill yang mumpuni karena memang mendapatkannya dengan cara yang tidak benar.

Kian ironis karena semakin banyak pelajar yang menyontek bahkan saat UAN sekalipun, ternyata ini alasan kenapa mereka memilih menyontek.

Ads
  1. Ingin mendapatkan nilai yang tinggi

Biasanya baik para orang tua atau kerabat dekat selalu bertanya tentang nilai akademis tanpa bertanya dapat darimana nilai tersebut. Terlalu menganggap seseorang pintar karena nilai, membuat para pelajar dan mahasiswa melakukan segala cara agar mendapatkan nilai tinggi termasuk budaya menyontek yang jelas – jelas tak dibenarkan.

  1. Tekanan dari orang tua

Tekanan agar mendapatkan nilai rapot tinggi atau nilai ipk yang tinggi membuat para pelajar dan mahasiswa mengaku lebih memilih jalan pintas untuk menyontek. Mereka lebih suka orang tua mereka bangga karena nilai yang bagus meski dengan cara yang salah. Sungguh ironis!

  1. Ingin mengikuti beasiswa

Biasanya syarat beasiswa memang menyertakan nilai akademis yang tinggi dan IPK minimal 3,0. Tentu saja buat para mahasiswa yang mempunyai IPK kecil, mau gak mau mereka mentarget nilai agar nilai akademis mereka naik dan bisa mengikuti beasiswa. Padahal IPK sama sekali tak menentukan kecerdasan seseorang, tetapi masih saja merupakan syarat lulus beasiswa.

  1. Belum banyak yang menyadari akibat dari menyontek untuk masa depan

Saat mendapat nilai yang bagus sekarang karena menyontek, tentu kita takan mendapatkan dampak sampai nanti ketika kita bekerja. Inilah alasan yang terakhir kenapa para mahasiswa santai saja dan masih membudayakan menyontek karena mereka tak memikirkan masa depan.

Ada suatu kisah ketika seseorang mendapatkan nilai cumlaude dan bekerja di sebuah perusahaan elit, dia diharuskan membuat jembatan layang. Namun, beberapa bulan jembatan dibangun akhirnya malah ambrol karena kesalahan perhitungan. Tentu saja perusahaan rugi berat dan ia dipecat karena dia sendiri tak mampu menguasai mata kuliah yang dulu diajarkan karena ketika ujian dan mendapatkan nilai bagus karena hasil menyontek bukan hasil belajar.

Nah inilah salah satu dampak menyontek yang selalu diabaikan mahasiswa dan pelajar. [IDN Times]