Mengintip cara milenial menentukan aktivitas wisata

Ilustrasi. (islamiccenter)
--Ads--
loading...

Jakarta (KANALACEH.COM) – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyiapkan strategi untuk memasarkan pariwisata Indonesia ke generasi milenial yang diprediksi akan mendominasi pasar wisata tahun 2019.

Salah satunya dengan cara mengetahui pola-pola milenial saat menentukan aktifitas wisatanya. Hal tersebut jadi salah satu yang dibahas dalam Forum Grup Discussion (FGD) II Kementerian Pariwisata bertema ‘Strategi Pemasaran Yang Efektif untuk Merebut Pasar Millennial Tourism’ di Hotel Borobudur Jakarta, Kamis (24/16).

Menteri Pariwisata Arief Yahya, dalam kegiatan tersebut menyimpulkan jika milenial memiliki ciri sangat ramah terhadap digital. Pola memulai dan memilih aktivitas wisata mereka pun melalui digital.

Ads

“Kalau tidak digital saya berani bilang mereka bukan milenial,” tutur Arief Yahya seperti dilansir laman Kompas.com.

Efek milenial yang sangat digital menurutnya mereka juga akan sangat personal dalam melakukan pemilihan. Alhasil, platform digital tersebut harus melayaninya secara intim (one on one).

“Kita setuju memiliki segmentasi (wisatawan) di dalam teorinya atau cara berpikir agar mudah menjelaskan ke orang awam, tapi dalam ekseskusinya kita one on one di dalam digital, sangat intimate tiap personal,” tutur Arief.

Hermawan Kartajaya sebagai founder & chairman MarkPlus Inc dalam FGD mengatakan platform digital tersebut merupakan gerbang wajib dari milenial dalam memulai aktifitas wisata. Namun, setelah itu mereka akan memilih ke beberapa pergerakan.

Apakah ingin menjadi avocator yang memamerkan pengalamannya, adventurer yang mencari tantangan baru, atau berfokus pada pengalaman-pengalaman wisata.

“Ke semua saluran ini pada akhirnya harus diakomodir secara one on one atau personalize. Pertanyaannya kan apakah bisa ‘platform digital’-nya nanti seperti itu?,” tuturnya.

Hermawan menyarankan, agar platform digital pariwisata nanti yang menjadi output promosi pariwisata indonesia harus disinergikan dengan tenaga manusisa secara langsung.

“Hal ini mengantisipasi keterbatasan platform dalam aspek-aspek tertentu, menyediakan konten yang juga one on one,” tutupnya.

Kegiatan FGD II kali ini mencakup topik bahasan yang terbagi dalam dua sesi yaitu sesi I membahas marketing 4.0, mengelola dan merebut pasar milenial, big data dan market intelligent (lifecycle dan lifestyle).

Sementara dalam sesi II membahas strategi penerapan BAS (Branding, Advertising, dan Selling) dan POSE (Paid Media, Owned Media, Social Media & Endorse) serta diakhiri dengan rekomendasi dan strategi rencana program pemasaran.

Deputi Pengembangan Industri dan Kelembagaan Rizki Handayani mengatakan wisatawan milenial akan terus tumbuh dan menjadi pasar utama.

“Di era digital saat ini, kaum millennial sebagai pemeran utama dalam menggunakan teknologi dan mengakses informasi di dunia maya. Kaum Generasi Y ini mudah terlihat dengan kegemaran mereka berwisata dan lebih senang berpetualang,” kata Rizki Handayani.

Diproyeksikan pada 2030 mendatang, pasar pariwisata Asia didominasi wisatawan milenial berusia 15-34 tahun mencapai hingga 57 persen. Di China generasi milennial akan mencapai 333 juta, Filipina 42 juta, Vietnam 26 juta, Thailand 19 juta, sedangkan Indonesia 82 juta. []