Ini penyebab utama banjir yang selalu melanda Aceh

by danirandi
Banjir bandang, jalan Singkil - Subulussalam tak bisa dilalui

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Pengalihan fungsi hutan lindung serta daerah rasapan air di provinsi paling ujung barat Sumatera telah mengakibatkan sejumlah daerah dilanda bencana banjir.

“Penyebab utama banjir adalah deforestasi,” kata Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh Muhammad Nur seperti dilansir laman Antara, Senin (19/11).

Pengalihan fungsi hutan lindung, daerah resapan serta pertambangan iligal menyebabkan laju deforestasi di provinsi paling barat Indonesia setiap tahun terus meningkat.

“Pengalihan fungsi hutan dan daerah resapan resapan di Provinsi Aceh tergolong parah dan setiap tahun seluas 23 ribu hektare lebih hutan lindung Aceh hilang karena aktifitas illegal loging dan pertambagan serta pembukaan lahan pertanian,” kata Direktur Walhi Aceh.

Perambahan hutan lindung atau iligal loging, penanaman sawit di kawasan resapan serta penambangan telah menyebabkan sebagian wilayah di “Bumi Seramkbi Mekah” berlangganan dengan banjir.

Diketahui, pekan ini dua wilayah di provinsi paling barat Sumatera yakni, Kabupaten Pidie, dan Aceh Timur diterjang bencana banjir dan longsor.

Banjir dan tanah longsor mengakibatkan badan jalan di Gampong Blang Bungong putus total di Gampong Layang, Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie.

Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menyatakan, banjir dan tanah longsor terjadi di delapan kecamatan yakni, Kecamatan Tangse, Mutiara Timur, Mutiara, Tiro/Truseb, Mila, Indrajaya, Keumala dan Titeu.

Titik longsor terjadi pada lima lokasi yakni, di jalan Pulo Sunong tujuan Blang Rimeh, kemudian di jalan Blang Bungong tujuan Blang Tengeh, jalan Pucok tujuan Layan, serta Blang Dhot tujuan Blang Pandak, Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie.

“Sekarang sudah bisa dilewati setelah dilakukan penanganan darurat sejak tadi malam, dan akiban banjir luapan itu badan jalan aspal terputus sepanjang kurang lebih 150 meter,” kata Abdul Samad Warga Desa Blang Jeurat, Kecamatan Tangse, kepada wartawan, Minggu.

Sementara kondisi rumah warga ditemukan rusak berat sebanyak empat unit, masing-masing satu unit di Desa Blang Bungong, satu unit di Desa Layan, satu unit di Desa Sunong dan satu unit di Desa Blang Dhot dan semua desa ini berada di Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie.

Kemudian, bencana banjir juga melanda Kabupaten Aceh Barat ?dan lintas nasional yang menghubungkan Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat tujuan Geumpang, Kabupaten Pidie, amblas sepanjang 150 meter akibat banjir, luapan sungai di wilayah administrasi Kecamatan Tangse.

Selain itu, dampak dari guyuran hujan dengan intensitas lebat di Kabupaten Aceh Utara, tanggul Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Pasee di Kecamatan Samudera, daerah setempat jebol dan mengakibatkan 6 gampong (desa) terendam air.

Ada pun enam daerah yang direndam banjir meliputi Gampong Mancang, Tanjung Masjid, Tanjung Awee, Kito, Paya Terbang sera Madan dan ke semua berada di Kecamatan Samudera, Aceh Timur.

Selanjutnya, banjir juga melanda Kabupaten Aceh Jaya pada periode Oktober 2018 dan mengakibatkan aktivitas pendidikan di wilayah tersebut lumpuh total.

“Keseluruhan 13 sekolah digenang banjir dan sejak digenang banjir para siswa tidak sekolah,” kata Kepala Dinas Pendidikan (Disdik), Kabupaten Aceh Jaya, Jabar di lokasi banjir, Gampong Blang Baro, Kecamatan Teunom, Aceh Jaya.

Kepala Disdik Aceh Jaya kala itu menjelaskan, sekolah yang digenang banjir meliputi, SDN 3, SDN 7, SDN 9, SDN 10, dan SMP Negeri 2 serta SMP Negeri 3 berada di Kecamatan Teunom.

Kemudian, SMP Swasta Darun Nizham, SDN 3, SDN 6, SDN 7, berada di Kecamatan Panga. Selanjutnya, SDN 2, SDN 6, di Kecamatan Setia Bakti dan SDN 2 di Kecamatan Darussalam Hikmah.

“Kami tidak meliburkan sekolah, tapi orang tua murid pada hari pertama banjir (Selasa, 16/10) sebagian menjemput anaknya ke sekolah saat jam belajar dan itu kita maklum demi keselamatan,” kata dia.

“Kondisi apapun pendidikan prioritas utama dan saya pastikan aktivitas belajar akan segara normal,” tambah Kepala Disdik Aceh Jaya.

Bencana banjir itu merupakan kiriman dari wilayah Tangse, Kabupaten Pidie, mengakibatkan Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Teunom, dan sejumlah anak sungai lainnya meluap dan merendam ratusan rumah warga di tujuh kecamatan, Kabupaten Aceh Jaya

“Ratusan rumah warga di tujuh kecamatan diterjang banjir karena empat sungai di Aceh Jaya meluap yakni, Sungai Teunon, Sungai Suak Beukah, Sungai Panga dan Sungai Krueng Oen,” kata Bupati Aceh Jaya T Irfan TB saat meninjau lokasi bencana banjir di Gampong Blang Baro, Kecamatan Teunom.

Banjir luapan sungai tersebut merendam tujuh kecamatan meliputi, Teunom, Panga, Pasie Raya, Darul Kamal, Setia Bakti, Krueng Sabe dan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya.

Kemudian, para petani di Kabupaten Aceh Jaya juga mengalami gagal panen akibat banjir merendam areal persawahan mereka dua hari terakhir setinggi 1,5 meter.

Tanaman jagung saya seluas dua hektar gagal panen karena banjir. Tidak ada lagi harapan, karena semua tanaman jagung saya terendam akibat hujan lebat dan luapan Krueng Teunom,” kata petani jagung, Junaidi (31), di Gampong (desa) Blang Baro, Kecamatan Teunom, Aceh Jaya. [aceh.antara]

You may also like