Sosok Rina di Mata Ayahnya: Dia Pintar Bahasa Jepang dan Guru Ngaji 

Bukhari, Ayah dari almarhum Rina Maharimi. (Kanal Aceh/Randi)
--Ads--
loading...

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Rina Maharami, seorang mahasiswi Universitas Islam Negeri Arraniry, Banda Aceh yang meninggal sebelum wisuda, ternyata pintar berbahasa Jepang.

Rina, mengambil jurusan Pendidikan Kimia, Fakultas Tarbiyah ini dikenal cukup baik dilingkungan tempat tinggalnya. Disela menjadi mahasiswi, ia jadi guru ngaji bagi anak-anak di Desa Cut Rumpun, Kecamatan Blang Bintang, Aceh Besar.

Ayah Rina Maharami, Bukhari (59) mengatakan, kebiasaan Rina selama kuliah ia giat mengikuti khursus Bahasa Jepang, dia fokus mempelajarinya. Bahkan, ia sudah mahir berbahasa jepang dengan lancar.

Ads

Baca: Mengharukan, Ayah Ambil Ijazah Anak yang Telah Meninggal di Acara Wisuda

“Dia fokus belajar bahasa Jepang. Dia pintar bahasa Jepang, bahasa Jepangnya seperti kita bahasa Aceh, lancar sekali,” kata Bukhari saat ditemui dirumahnya di Desa Cut Rumpun, Kecamatan Blang Bintang, Aceh Besar, Kamis, 28 Februari 2019.

Semasa ia kuliah, kata Bukhari, Rina sempat meminta untuk bekerja di salah satu sekolah untuk mengajar Bahasa Jepang. Namun, Bukhari tidak mengjinkan, dengan alasan takut kuliah Rina terbengkalai.

Baca: Sosok Rina Muharrami Dimata Sahabat: Dia Menginspirasi

“Dalam masa kuliah sempat minta berhenti kuliah karena ada seorang guru yang minta untuk mengajar bahasa Jepang, tapi saya tidak kasih nanti kuliahnya terkatung-katung,” ujar Bukhari yang kesehariannya berprofesi sebagai tukang bangunan.

Anak pasangan dari Bukhari dan Nurbayati ini juga dikenal sebagai siswa berprestasi. Sejak Sekolah Dasar, ia sudah memiliki prestasi yang membanggakan.

Ketua Prodi Pendidikan Kimia, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Muzakir mengatakan, Rina mahasiswi yang sosoknya sederhana dan cerdas di kalangan mahasiswa di prodinya. Ia juga menguasai Bahasa Jepang dengan baik.

Muzakir mengatakan, Rina juga lulus dengan predikat istimewa dengan indeks prestasi kumulatif 3.51. “Anaknya aktif, baik, pintar. Bahasa Jepang nya juga bagus,” kata Muzakir

Sebelum meninggal dunia, almarhumah Rina sudah menyelesaikan seluruh syarat untuk wisuda. Namun sebelum yudisium, Rina sudah duluan dipanggil oleh Allah, sehingga ia tidak sempat mengikuti proses yudisium dan wisuda.

Rina menjalani sidang skripsi pada 24 Januari 2019. Namun, 13 hari setelahnya, pada 5 Februari 2019, ia dipanggil oleh sang pencipta. Rina meninggal dunia setelah menderita penyakit tifus stadium akhir hingga berujung pada saraf.

Saat acara wisuda, Ayahnya yang mewakilkan Rina untuk mengambil ijazah sang anak. Video pengambilan itu sempat viral di media sosial. [Randi]