Sosok Rina Muharrami Dimata Sahabat: Dia Menginspirasi

Sreenshot: Ig @Uin_Arraniry_Official
--Ads--
loading...

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Rina Muharrami, mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Ia dinyatakan meninggal tiga belas hari setelah menjalani sidang skripsi sarjana di UIN Ar-Raniry.

Prosesi wisuda kelulusan almarhumah kemudian diwakili oleh orang lain. Video pengambilan ijazah Rina sempat viral di media sosial.

Dilansir laman Uin.Ar-raniry.ac.id, Rina menjalani sidang skripsi pada 24 Januari 2019 pukul 12.00 WIB. Namun, tiga belas hari setelahnya, tanggal 5 Februari 2019, ia dipanggil oleh Sang Pencipta. Rina meninggal dunia setelah menderita penyakit tifus stadium akhir hingga berujung pada saraf.

Ads

Rina, menderita penyakit tifus kurang lebih selama satu bulan. Dirinya sempat koma dan dirawat di ICU Rumah Sakit Meuraxa, Kabupaten Aceh Besar.

Baca: Mengharukan, Ayah Ambil Ijazah Anak yang Telah Meninggal di Acara Wisuda

Mahasiswa asal Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar ini, merupakan sosok yang sangat menginspirasi di kalangan sahabatnya. Almarhumah merupakan sosok yang tekun dan terkenal sederhana. Ia terlahir dari kedua orang tua yang berprofesi sebagai petani.

“Orangnya super simple dan perhatian luar biasa sama sahabat-sahabatnya. Kalau sama saya, dia selalu ketawa walaupun lagi sakit. Kemarin pas sidang bawaannya ketawa-ketawa aja karna saya buat lucu gitu. Pokoknya dia inspirasi untuk saya pribadi, karena dia, kenapa saya bisa niat kejar skripsi. Dia motivator bagi saya,” kata rekannya, Nisa.

Keseharian almarhumah yang juga merupakan guru ngaji tentu memiliki nilai positif di kalangan sahabatnya. Ia merupakan sosok yang selalu mahir memposisikan dirinya dalam setiap keadaan.

“Sahabat yang paling buat saya bangga ketika dalam keadaan apapun dia pandai sekali memposisikan dirinya. Itu yang buat saya salut dan terasa seperti mimpi sekarang dia udah nggak ada. Nggak bisa diungkapkan saking baiknya Rina. Salutnya lagi, kalo kami lagi ada yang ngegosipin seseorang, dia slalu bilang ‘udah-udah ganti topik, jangan ghibah,” ujarnya.

Rina merupakan satu dari ribuan mahasiswa yang tekun dan berjuang keras dalam mencapai cita-cita.

“Dia orangnya sebelum sakit tekun. Setau saya dia nggak punya laptop, tapi dia berusaha untuk pinjam laptop bibinya demi menyelesaikan skripsi, orangnya super sederhana,” lanjutnya.

Selain kesederhanaan yang dimilikinya, ia juga merupakan mahasiswa yang berprestasi. Rina dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas di prodinya. Bahkan dirinya juga mampu menguasai bahasa Jepang dengan baik.

Selama kuliah ia merupakan mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi. Kini ia lulus dengan predikat istimewa dengan indeks prestasi komulatif 3.51.

“Anaknya aktif, baik, pintar. Bahasa Jepang nya juga bagus,” kata Muzakir Ketua Prodi Pendidikan Kimia, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.

Sebelum meninggal dunia, almarhumah Rina sudah menyelesaikan seluruh syarat untuk wisuda pada semester ini. []