Kata Kemenag Soal Situs Karantina Haji Pertama Indonesia di Sabang Terbengkalai

Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kemenag, Sri Ilham Lubis saat berkunjung ke situs karantina haji di Sabang. (Kanal Aceh/Randi)
--Ads--
loading...

Sabang (KANALACEH.COM) – Kementrian Agama melalui Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kemenag, Sri Ilham Lubis merasa prihatin melihat kondisi bangunan situs karantina haji pertama Indonesia, di Pulau Rubiah, Sabang yang terbengkalai.

Saat pertama kali tiba dilokasi, Sri Ilham langsung menuju ke dua bangunan yang berada di belakang monument situs. Dengan melewati jalan yang dipenuhi ilalang setinggi pinggang orang dewasa, sejauh 30 meter dari jalan setapak.

Ia mengatakan, bangunan tersebut seharusnya bisa digunakan untuk kilas balik perjalanan haji di Indonesia. Namun, dengan kondisinya yang rusak, perlu dilakukan renovasi dan pemugaran kembali.

Ads

Baca: Ternyata Pulau Rubiah pernah jadi pelabuhan karantina haji

“Tapi kalau kita lihat bangunan ini memprihatinkan, jadi atapnya sudah roboh, jalannya sudah pecah-pecah, retak, jadi memprihatinkan,” kata Sri Ilham saat mengunjungi situs karantina haji di Pulau Rubiah, Sabang, Senin (25/6).

Jika ini dipugar, kata dia, jamaah haji bisa tahu bagaimana sejarahnya dulu jamaah haji dari Pulau Sumatera, ketika kembali menunaikan ibadah haji, mereka sempat singgah dikarantina di sini.

Bangunan yang sudah dibangun sejak 1920 itu, awalnya sudah pernah dipugar. Namun, kembali rusak. Plafonnya roboh, dindingnya sudah retak, halamannya ditumbuhi ilalang dan banyak sampah dedaunan di dalam ruangan.

Meski sudah berusia tua, ada sisi yang masih manandakan bahwa bangunan itu dibangun pada zaman Belanda. Yaitu mulai dari lantainya hingga ventilasi udara yang masih asli dan bentuk jendela di bangunan itu.

“Saya benar-benar takjub, melihat bangunan ini masing-masing di bangun dari zaman Belanda dulu sampai sekarang,” ujar Sri Ilham.

Ia berharap kondisi itu sudah diketahui oleh Kanwil dan masyarakat agar bisa segera dibangun dan direnovasi. Kemudian bisa dilestarikan untuk wisata religi, napak tilas bahkan manasik haji.

“Kami mendorong dari pihak Pemda dan Kanwil agar bisa direnovasi, sehingga masyarakat bisa datang ke sini. Akses juga perlu dibenahi.Terbuka saja, makin cepat makin baik,” ucapnya. [Randi]

Ads