Dugaan Pungli Kenaikan Pangkat Resahkan Guru di Aceh Tenggara

Pungli di rutan, Polda telah kantongi alat bukti
Ilustrasi pungutan liar (pungli). (Detik)
--Ads--
loading...

Kutacane (KANALACEH.COM) – Pihak BKPSDM Aceh Tenggara, diduga melakukan pungutan liar untuk mengurus kenaikan pangkat para pegawai negeri sipil di daerah itu.

Informasi yang diperoleh, pungutan itu bervariasi, mulai dari Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Banyak pegawai yang mayoritas  guru menjadi resah akibat pungutan tersebut.

“Kalau soal itu sudah lama (pungli), bayarnya dari Rp 2 juta sampai Rp3 juta tergantung kesulitan pengurusan makalahnya,” ucap sejumlah guru yang meminta namanya dirahasiakan kepada kanalaceh.com di Kutacane Sabtu (31/8).

Ads

Mereka menyebut, oknum pegawai di BKPSDM ada yang menajadi joki dalam pengurusan itu. Bahkan, saat pengurusan itu dilakukan si oknum beralasan setoran uang sekian juta untuk disetor ke bagian yang memproses kenaikan pangkat.

“Kami berharap dugaan pungli ini di ungkap oleh aparat penegak hukum, agar bisa menguak semuanya, karena kasihan setiap mau naik pangkat harus setor dengan mereka. Apalagi yang mau naik ke IVb rata-rata pakai joki,” paparnya.

Kepala Badan Kepegawaian dan Pendidikan Sumber Daya Manusia (BKPSDM), Kabupaten Aceh Tenggara, Massuddin saat di konfirmasi mengaku, dirinya juga pernah mendengar bawahannya melakukan pungli. Namun, belum terungkap.

Padahal, pihaknya sudah menegaskan kepada pegawai yang bekerja di BKPSDM untuk tidak melakukan pungutan liar.

“Saya telah berulang kali meyampaikan peringatan dan penegasan bahwa tidak dibenarkan pungli. Namun kalau masih ada yang berani bermain api, silakan pertanggung jawabkan.  Hal itu saya sudah sampaikan kepada bawahan,” ujar Masuddin.

Kabid Pangkat Pensiunan dan Data BKPSDM Aceh Tenggara Dewi Nainggolan membantah kalau pihaknya melakukan pungli. Namun, kata dia ada yang memberikan uang tanpa ditentukan berapa jumlahnya, bagi mereka yang tidak bisa membuat makalah atau tugas karya ilmiah sebesar Rp 100 ribu.

“Tapi ini diberikan secara sukarela dan tapa paksaan,” jelasnya. [Seh Amin]