Geliat Industri Pariwisata Aceh

Wisatawan asal Malaysia berkunjung ke Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. (Foto: IST)
--Ads--
loading...

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Pertumbuhan sektor pariwisata di Aceh patut mendapat dukungan dari berbagai pihak, sebagai prioritas untuk meningkatkan pendapatan dan pembangunan daerah.

Dari sektor industri pariwisata di tanah rencong mulai berkembang pesat, sejumlah destinasi wisata yang ada di Aceh, perlahan terus tumbuh dan mulai mendapat tempat di mata wisatawan.

Apalagi itu didukung dengan fokus pembagian zona pembangunan wisata yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Aceh. Di masa Irwandi-Nova, pemerintah menetapkan empat cluster wisata guna meningkatkan kunjungan wisatawan ke Aceh.

Ads

Empat cluster wisata tersebut ialah, cluster wisata bahari dan budaya, wisata adventure, agro dan olah raga, cluster ekologi dan cluster wisata religi dan heritage.

Dari empat cluster tersebut, ada beberapa keunggulan yang telah mendunia, seperti di wilayah dataran tinggi Gayo, memiliki keunggulan Tari Saman yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO pada 2011.

Kemudian Kopi Gayo, yang telah diakui kualitasnya oleh International Fair Trade, pada 2010. Dan Gunung Lauser, yang telah ditetapkan sebagai warisan Hutan hujan tropis Sumatera oleh UNESCO pada 2004.

Kemudian, kegiatan mendunia lainnya di Kabupaten Simeulue, International Surfing pada tahun 2018, yang digelar resmi oleh World Surf League (WSL) dan Asian Surfing Championship (ASC).

Peselancar asal Bali menjajal ombak di pantai Matanurung, Simeulue. (Foto: Dani Randi)

Selain itu, beberapa karya budaya yang ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) pada 2019 yaitu, Memek dari Simuelue dan Gutel dari Aceh Tengah sebagai domain kemahiran dan kerajinan tradisional. Dua lainnya yaitu Sining dan Aceh Tengah sebagai domain seni pertunjukan dan Silat Pelintau dari Aceh Tamiang sebagai domain tradisi dan ekspresi lisan.

Keseriusan Pemerintah Aceh dalam mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan mancanegera itu, sudah terlihat sejak 100 hari masa kerja Irwandi-Nova. Keberhasilan yang dicapai dalam membangun industri pariwisata dimulai dari penetapan Kawasan agro wisata terpadu di Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues.

Setelah itu penetapan kawasan Wisata Marina di Pulau banyak, Aceh Singkil. Dan menjadikan Sabang sebagai wisata bahari dunia lewat wisata kapal pesiar dan Kawasan yang nyaman intuk investasi kelas dunia. Terakhir, memperkuat branding “The Light of Aceh” yang merefleksikan Aceh sebagai destinasi wisata halal dunia (Halal Food, Certification and Halal Tourism).

Tentu 100 hari tidak cukup untuk membranding Aceh, sebagai daerah wisata yang aman, nyaman dan layak dikunjungi. Sejak dilantik pertegahan Juli 2017 lalu, Irwandi-Nova langsung tancap gas.

Berbagai event wisata ditingkatkan, hingga mempromosikan Aceh melalui paket tour wisata ke belahan dunia, dengan harapan bisa mereduksi stigma masyarakat luar (domestik maupun internasional) bahwa Aceh saat ini sudah aman, nyaman dan damai.

Tari Saman dengan 12.262 penari cetak rekor MURI
Tarian Saman yang dibawakan oleh 12.262 penari di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Gayo Lues, Minggu (13/8). (Kanal Aceh/Fahzian Aldevan)

Itu terbukti, dalam kurun waktu 2017-2018 jumlah wisatawan mancanegara meningkat drastis. Tahun 2017, kunjungan wisman ke Aceh mencapai 78 ribu orang. Lalu di tahun 2018, meningkat tajam mencapai 106.281 wisman yang berkunjung ke Aceh.

Jumlah ini, diprediksi akan terus meningkat seiring banyaknya atraksi wisata yang disuguhkan oleh Pemerintah Aceh kepada wisatawan baik mancanegara maupun domestik di tahun 2019. Tentu saja, ini menjadi langkah awal untuk kembali mendongkrak wisatawan untuk mau berkunjung ke Aceh.

150 Ribu Wisman

Pemerintah Aceh sebelumnya menyakini, pada tahun 2019 tingkat kunjungan wisatawan ke Aceh bakal terus mengalami peningkatan seiring gencarnya promosi dilakukan.

Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, menyebut, melihat angka kunjungan 2018, ada peningkatan mencapai 2,4 juta orang terdiri 2,3 juta wisatawan nusantara (wisnus), dan 106.281 ribu wisman.

“Jumlah itu meningkat dibanding 2017 lalu. Angka ini diprediksi terus meningkat, dan tahun ini (2019) kita menargetkan angka kunjungan wisman mencapai 150 ribu orang,” ujar Nova pada bulan Maret 2019 lalu, saat ikut melaunching Calender Of Event (CoE) Aceh di Gedung Sapta Pesona, Kementrian Pariwisata RI.

Industri pariwisata Aceh, kata dia juga semakin berkembang. Banyak ragam paket wisata sesuai keunikan daerah, dan semakin tinggi minat masyarakat untuk terlibat dalam industri pariwisata.

Misalnya, industri cottage di Kepulauan Banyak yang mulai menjamur. Salah seorang pengembang bungalow Kimo Resort di Pulau Panjang, Kecamatan Pulau Banyak, Manaf mengakui, bahwa kunjungan wisatawan makin meningkat, karena fasilitas mulai banyak di setiap pulau.

Dari pantauan kanalaceh.com, sejak awal 2018 hingga September 2019, sekitar 10 pengembang masuk ke Pulau Banyak. Mereka mendirikan cottage di berbagai pulau, dengan rincian, tiga di Pulau Panjang, dua di Pulau Palambak, satu di Pulau Asok, dua di Pulau Sikandang, satu di Ujung Lolok dan di Pulau Sikandang.

“Mereka mulai berlomba-lomba untuk invest, dan mendirikan bungalow dan resort di pulau yang ramai dikunjungi,” kata seorang pramuwisata Pulau Banyak, Mefrian Permana.

Selain itu, kemjuan industri pariwisata juga terlihat di dataran tinggi tanah Gayo. Deretan resort dan penginapan mulai tumbuh, seiring kunjungan wisatawan di daerah itu mulai dikenal, seperti Pantan Terong, Danau Lut Tawar dan Pacuan Kuda tradisional.

Atraksi wisata yang digelar hampir di seluruh Aceh juga terus meningkat, demikian juga destinasi wisata baru dengan berbagai sarana dan prasarana pendukung, ditambah lagi dengan semakin viralnya pesona wisata Aceh di berbagai dunia maya.

Sejalan dengan itu, promosi pariwisata terus dilakukan dengan tetap mengedepankan prinsip pelestarian lingkungan, penguatan nilai-nilai budaya Aceh yang Islami, dan semangat branding wisata Aceh.

Hal itu juga didukung dengan 100 event wisata pada tahun 2019. CoE Aceh 2019 ini dikemas dengan unik dan menarik serta bernuansa wisata halal yang di bagi menjadi dua segmen.

Segmen pertama yaitu 10 top event Aceh 2019 dan 90 event unggulan. Khusus 10 top event ini, tiga diantaranya masuk dalam kalender 100 event wonderfull Indonesia 2019 di Kemenpar RI. Yaitu Aceh Culinary Festival, Saman Gayo Alas Festival di Gayo Lues dan Aceh International Diving Festival di Sabang.

“Ketiga agenda wisata itu untuk menguatkan posisi Aceh sebagai destinasi wisata yang patut diunggulkan dan mampu menarik minat wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Jamaluddin.

Menariknya, dari 10 top event wisata di Aceh, ada beberapa yang tergolong baru. Yaitu Festival Ramdhan di Banda Aceh, Festival Danau Lut Tawar di Takengon, Aceh Internasional Rapa’I festival di Bireuen dan terakhir Pulau Banyak Internasional Festival. Di tahun sebelumnya, event tersebut tidak masuk dalam 10 event wisata unggulan di Aceh.

Sebab, perkembangan wisata di daerah tersebut sudah tergolong maju baik dari segi infrastruktur hinggi memiliki tingkat kunjungan wisatawan yang terus meningkat. Sebagai contoh, setelah pembangunan Pulau Banyak Marine di Pulau Panjang, kini pulau tersebut jadi salah satu pulau yang sering dikunjungi wisatawan.

Buka Pintu

Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah menyebutkan, saat ini Aceh sedang membuka pintu selebar-lebarnya untuk dunia luar, salah satunya di bidang pariwisata dan kebudayaan.

Hal itu dilakukan untuk meyakinkan dunia luar, bahwa pariwisata di Aceh semakin berkembang.

“Saya sedang meyakinkan dunia luar, bahwa sekarang di Aceh sangat nyaman, aman, masyarakat sangat welcome. Syariat Islam sama sekali bukan hambatan, bahkan syariat Islam di Aceh bisa menjadi tempat meneliti dan mempelajari Islam sedalam-dalamnya,” ujarnya saat menerima delegasi dari Oman.

Pemerintah Aceh juga menargetkan kunjungan wisatawan dari Timur Tengah dengan persepsi wisata halal menjadi salah satu daerah yang layak untuk dikunjungi. Sebab, persepsi wisata halal yang ramah terhadap wisatawan Muslim akan memberikan berbagai kemudahan bagi wisatawan Muslim saat hadir di Aceh.

“Promosi Pariwisata Aceh kepada masyarakat Timur Tengah sudah kita lakukan, dan sudah banyak (wisman Timur Tengah) yang kesini (Aceh) berwisata. Kita harap mereka kembali ke negaranya, mereka akan menceritakan pengalamannya ketika berwisata di Aceh,” ujar Kadisbudpar Aceh, Jamaluddin.

Direktur DeBe Holiday Tour & Travel Banda Aceh, Delfia Risa mengakui saat ini wisatawan Malaysia masih mendominasi jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Aceh. Soal wisatawan eropa dan belahan Asia lainnya, mulai mengenal Aceh lewat tour kapal pesiar yang jumlahnya semakin banyak bersandar di Aceh.

“Kita lihat dalam dua tahun ini, banyak kapal pesiar yang singgah di Sabang, lalu mereka ke Banda Aceh dan sekitarnya, ini menandakan, Aceh mulai dilirik wisatawan kapal pesiar,” ujarnya kepada Kanalaceh.com.

Perkembangan industri pariwisata di Aceh saat ini mulai tumbuh. Ini menunjukkan komitmen para pemimpin di Aceh yang ingin menjadikan pariwisata sebagai sektor andalan dalam meningkatkan perekonomian daerah. Tentunya ‘Aceh Hebat melalui ragam pesona wisata’ harus tetap ter-branding untuk kesejahteraan masyarakat. [Randi]