7000 Awak Angkutan Umum di Aceh Butuh Bantuan

7000 Awak Angkutan Umum di Aceh Butuh Bantuan
Ilustrasi. (net)
--Ads--
loading...

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Organda Aceh menyatakan terdapat sekitar 7.000 awak angkutan umum di provinsi ujung barat Indonesia tersebut yang membutuhkan bantuan pemerintah akibat dampak COVID-19 terhadap kondisi perekonomian mereka.

Ketua Organda Aceh H Ramli di Banda Aceh mengatakan, pandemi COVID-19 membuat sektor transportasi lumpuh, penumpang turun drastis, sehingga pendapatan awak angkutan merosot.

“Ada sekitar 7.000 awak angkutan umum, baik orang maupun barang, yang harus dibantu. Mereka juga ikut terdampak COVID-19. Kami berharap ada perhatian dari pemerintah,” kata H Ramli, Rabu (22/4) seperti dilansir laman Antara.

Ads

Untuk angkutan penumpang, kata H Ramli, kondisinya kini sangat memprihatinkan. Jumlah penumpang merosot hingga 70 persen, sehingga menyebabkan pendapatan sopir dan kernet berkurang.

Sedangkan angkutan barang masih bertahan, namun mereka kini merasa khawatir dengan kondisi COVID-19 di Sumatera Utara. Sebab, mereka mengangkut kebutuhan pokok dari gudang-gudang di Sumatera Utara dan membawanya ke Aceh.

“Risiko mereka terpapar COVID-19 tinggi sekali. Jadi, sopir angkutan barang ini juga termasuk mereka yang berada di garda terdepan di tengah pandemi COVID-19,” kata H Ramli.

H Ramli tidak bisa membayangkan bagaimana jika para sopir angkutan barang tersebut tidak mau berangkat karena khawatir terpapar COVID-19. Akibatnya, persediaan berkurang dan harga kebutuhan pokok meningkat.

“Kondisi inilah yang harus dihindari, jangan sampai sektor transportasi, terutama angkutan barang terhenti. Jika ini terhenti, berdampak pada kebutuhan pokok masyarakat Aceh,” kata H Ramli. []

 

 

View this post on Instagram

 

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – MPU Aceh mengeluarkan Tausyiah bernomor 5 Tahun 2020 terkait ibadah di bulan ramadan. Salah satu poin dalam tausiah itu, salat tarawaih tidak dilarang dan tetap digelar seperti biasanya. Wakil Ketua MPU Aceh, Tgk Faisal Ali menyebutkan, keputusan itu diambil dari pandangan tokoh, pejabat pemerintahan dan para ulama yang ada di Aceh. Melihat kondisi saat ini, kata Faisal, salat tarawih berjamaah tetap digelar, meskipun di tengah wabah virus corona (Covid-19). “Ada 13 poin dalam Tausyiah itu terkait pelaksanaan ibadah bulan ramadan, jadi tetap salat tarawih berjamaah dilakukan seperti biasa di masjid,” ujar Faisal Ali saat dikonfirmasi, Selasa (21/4). Jemaah shalat tarawih malam pertama di Masjid Raya Baiturrahman, Minggu (5/5). (Abdul Hadi/Humas Pemprov Aceh) Namun, kata Faisal, ada beberapa protokol kesehatan yang harus diterapkan oleh warga. Yaitu, ke masjid harus menggunakan masker dan membawa sajadah sendiri. Kemudian masjid diimbau tidak menggelar ambal. Kemudian, terkait jarak antarshaf, akan dikembalikan kebijakannya ke masjid-masjid. “Tetap membawa sajadah sendiri-sendiri, dan warga kita minta untuk terapkan protokol kesehatan,” ujar Faisal. selanjutnya baca di www.kanalaceh.com #bandaaceh #acehbesar #acehjaya #acehbarat #naganraya #abdya #acehselatan #subulussalam #acehsingkil #pidie #pidiejaya #bireuen #acehutara #lhokseumawe #acehtimur #langsa #acehtamiang #gayolues #acehtengah #benermeriah #sabang #mpu #himbauan #shalattarawih #bulanpuasa #bulansuci #ramadhan #sajadah #masjid #tempatibadah

A post shared by Kanal Aceh (@kanalacehcom) on