Pasien di RSUZA Turun Hingga 70 Persen

Seorang pasien tengah dirawat di RSUZA, Banda Aceh, Selasa (19/12). (Kanal Aceh/Randi)
--Ads--
loading...

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Pasien yang berobat ke Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh dalam tiga bulan terkahir mengalami penurunan drastis. Sebabnya, dinilai karena pandemi virus corona (Covid-19), membuat warga enggan ke rumah sakit dan memilih dirawat di rumah.

Hal itu juga dibenarkan oleh Direktur RSUZA, Azharuddin, kata dia pasien RSUZA selama bulan Maret, April dan Mei menurun dari 60 persen hingga 70 persen.

Dari data yang dimiliki, pasien yang khusus melakukan operasi di RSUZA pada bulan Maret sebanyak 1050 pasien, kemudian menurun di bulan April sebanyak 373 pasien dan selama bulan Mei 181 orang.

Ads

“Penurunan jumlah pasien (tiga bulan terakhir) 60 persen sampai 70 persen,” kata Azharuddin saat dikonfirmasi, Kamis (21/5).

Sebelum virus corona, kata dia, untuk layanan pengambilan obat dibuka 6 loket, karena jumlah pasien rawat jalan yang mencapai 500-600 orang/hari, setelah ada wabah corona di Aceh jumlahnya turun menjadi 100-200 orang.

Loket pengambilan obat dari enam, kini dibuka hanya dua saja. Menurutnya sejak pandemi Covid-19 penurunan jumlah pasien untuk berobat juga terjadi di seluruh rumah sakit di dunia, baik rumah sakit pemerintah maupun swasta.

Akibat penurunan itu, pihaknya terpaksa melakukan sistem remunerasi atau pemotongan jasa terhadap tenaga medis yang bekerja di rumah sakit pelat merah tersebut. Karena selama pandemi virus corona pasien yang berobat ke RSUZA mengalami penurunan.

Sehingga, kata dia jasa yang didapat oleh tenaga medis atas dasar pelayanan yang diberikan pada pasien saat berobat ke RSUZA juga berkurang.

“Sejak Maret April Mei, kunjungan pasien ke RSUDZA turun drastis, jika pasien sepi maka jasa medis juga sepi,” katanya. [Randi/rel]

 

View this post on Instagram

 

Banda Aceh (KANALACEH.COM) —Aparatur Sipil Negara (ASN) serta Tenaga Kontrak (TK) di lingkungan Pemerintah Aceh dilarang mudik Idul Fitri 1441 H untuk menangkal virus corona masuk desa. “Virus corona berawal di Tiongkok yang menyebar ke pelbagai negara dan selanjutnya terbawa ke kota-kota di Indonesia. Karena itu perlu dihadang agar tidak ikut mudik ke gampong-gampong di Aceh,” kata Juru Bicara Pemerintah Aceh yang juga Juru Bicara Covid-19 Aceh, Saifullah Abdulgani, Rabu (20/5). Ia menjelaskan, sudah ada Surat Edaran Gubernur Aceh Nomor 440/5944 tentang larangan bepergian ke luar daerah atau kegiatan mudik atau cuti bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan TK dalam upaya pencegahan Covid-19. Surat Edaran (SE) tersebut, jelasnya, ditandatangani Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah pada 15 April 2020, karena itu perlu diingatkan agar ASN dan TK Pemerintah Aceh tidak mudik karena SE ini dasarnya sangat kuat dan disertai dengan sanksi yang tegas bagi yang coba-coba mengangkanginya. . SE Gubernur Aceh itu sebagai tindak lanjut dari Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 46 Tahun 2020, tentang pembatasan bepergian ke luar daerah dan/atau kegiatan mudik dan/atau cuti bagi Aparatur Sipil Negara dalam upaya pencegahan Covid-19. “Lahirnya SE itu tidak serta-merta atau atas kebijakan Pak Nova Iriansyah semata, melainkan kebijakan negara yang harus dijalankan oleh setiap kepala daerah secara nasional,” ujarnya. Selengkapnya klik di www.kanalaceh.com atau swipe story #bandaaceh #acehbesar #acehjaya #acehbarat #naganraya #abdya #acehselatan #subulussalam #acehsingkil #pidie #pidiejaya #bireuen #acehutara #lhokseumawe #acehtimur #langsa #acehtamiang #gayolues #acehtengah #benermeriah #sabang #pltgubernuraceh #asn #kebijakan #negara #pantau #videocall #sosialmedia #mudik #pulangkampung

loading...

A post shared by Kanal Aceh (@kanalacehcom) on

Ads