Kadin Aceh Sebaiknya Dipimpin Orang yang Berjiwa Entrepreneur

by danirandi

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Musyawarah VII Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Wilayah Aceh yang akan dilaksanakan pada akhir Mei 2022 mendatang, diharap bisa melahirkan pimpinan yang punya keinginan kuat untuk membangun ekonomi Aceh di tengah Pandemi.

Dalam muyawarah tersebut nantinya akan memilih ketua umum dan pengurus definitif yang baru. Kalangan pengusaha tentu memiliki harapan agar ketua yang terpilih memiliki sensitifitas terkait ekonomi Aceh.

Seorang pengusaha Aceh yang juga menajabat sebagai ketua Hiswana Migas Aceh, Nahrawi Noerdin mengatakan, Kadin Aceh harus berada di garda terdepan untuk mengambil peran utama dalam pembangunan ekonomi Aceh.

“Kadin sebaiknya dipimpin oleh sosok yang benar-benar memiliki jiwa entrepreneur. Kadin harus menjadi lokomotif pembangunan ekonomi Aceh yang bisa membawa gerbong kemajuan dan kesejahteraan bagi masyarakat,” kata Nahrawi dalam keterangannya, Senin (9/5).

Untuk itu, Kadin ke depan, kata dia, harus dipimpin oleh orang yang mampu melihat potensi ekonomi dan memiliki ide-ide kreatif yang inovatif untuk memanfaatkannya.

“Dan yang tidak kalah penting, sosok ketua Kadin tersebut harus mampu mendorong semua pelaku usaha di Aceh untuk mengembangkan diri dan adaptif terhadap perubahan global,” ujar Nahrawi.

Menurutnya, sosok ketua Kadin harus juga memiliki jiwa entrepreneur sejati yang berpengalaman dan memiliki jaringan bisnis yang luas. Karena untuk membangun Aceh tidak bisa berjalan sendiri dan apalagi berharap pada anggaran pemerintah.

Ketua Kadin, lanjut Nahrawi harus mampu membuka kran kerjasama dengan kalangan investor dan pebisnis nasional maupun mancanegara.

“Jadi sosok yang memimpin Kadin memang harus punya kapasitas untuk itu. Bukan yang cilek-cilek dan hanya berfikir untuk menggarap proyek-proyek yang dianggarkan pemerintah,” katanya.

Nahrawi berharap, Kadin ke depan benar-benar menjadi rumah bagi pelaku usaha di Aceh. Kadin harus peduli dan memperjuangkan solusi bagi permasalahan yang dihadapi pelaku usaha. Wajah kadin jangan eksklusif tapi harus inklusif, sehingga mampu menggerakkan semua potensi.

Ketika disinggung tentang biaya mahar pendaftaran yang mencapai Rp 500 juta, Nahrawi mengatakan bahwa hal itu menjadi urusan panitia dan dirinya tidak ingin mengomentari lebih jauh.

“Bagi pebisnis yang berminat menjadi ketua tentu uang pendaftaran dengan jumlah tersebut akan dipenuhi. Tapi apakah ia punya visi, misi, dan program-program implementif yang benar-benar bisa menjadikan Kadin sebagai lokomotoif bagi pembangunan ekonomi Aceh?”

“Menurut saya hal itu justru yang paling penting. Sanggup bayar mahar, tapi tidak punya kapasitas untuk berfikir bagaimana membangun ekonomi Aceh. Ya sia-sia saja ujungnya,” ucapnya.

You may also like