Bireuen (KANALACEH.COM) – Sebanyak 22 kepala keluarga bertahan di tenda pengungsian Desa Kafa, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Selasa, 24 Februari 2026.
Mereka mengungsi di hunian darurat (hundar) yang dibangun berbentuk rumah namun berbahan terpal oleh relawan.
Kepala Desa Kafa, Evendi, menyebutkan, saat ini tidak ada lagi pasokan bahan pangan untuk penyintas banjir daerah itu.
Mereka juga belum menerima uang jatah hidup (jadup) sebesar Rp 15.000 per orang per hari selama 90 hari.
“Yang sudah diterima warga itu Dana Tunggu Hunian (DTH) saja. Itu pun 12 kepala keluarga dari 22 kepala keluarga belum menerima DTH, karena Nomor Induk Kependudukannya (NIK) ada masalah,” tutur Evendi seperti dilansir laman kompascom, Rabu, 25 Februari 2026.
Dia berharap, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Sosial RI segera menyalurkan bantuan untuk penyintas banjir di desanya.
“Apalagi bentar lagi Idul Fitri, sangat banyak dana yang dibutuhkan untuk baju baru dan lain sebagainya. Seluruh rumah mereka hancur, solusi satu-satunya bertahan di hunian darurat itu,” ujarnya.
Selain itu, dia berharap memperbaiki tebing sungai yang melintas di desa itu. Pasalnya, seluruh tebing sungai hancur saat banjir pada 26 November 2025.
Dampaknya, jika hujan deras, air Krueng (sungai) Peusangan kini langsung meluber ke pemukiman penduduk. Sisi lain, mereka juga mengalami abrasi air laut.
“Jadi, kami dua-duanya masalah, tebing sungai harus diperbaiki, dan abrasi laut juga harus diatasi. Kami harap ini jadi perhatian pemerintah,” tutur dia.
Kini, tiga bulan pascabanjir, mereka masih bertahan di tenda pengungsian. Sebanyak 130 kepala keluarga di desa itu berupaya bangkit, lewat tangan dan kaki sendiri.
