Hal yang sama dialami Ramza (39), warga Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu. Ia masih sibuk membersihkan sisa lumpur dari banjir sebelumnya ketika air kembali datang. Pekerjaan itu seperti tak pernah selesai.
Setiap hari, ia dan warga lain mencangkul lumpur yang mengeras, mengangkat potongan kayu, dan mencoba mengembalikan rumah ke bentuk semula. Namun, tanpa perbaikan tanggul dan normalisasi sungai, usaha itu terasa rapuh.
“Kalau ini tidak diperbaiki, ya sama saja,” katanya.

Ia mengaku, trauma menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka sekarang. Tak ada yang benar-benar tenang ketika hujan turun.
“Trauma itu pasti ada saat hujan datang. Siapapun warga di sini, kalau hujan turun, sudah siap-siap semua,” ujarnya.
Permintaan mereka sebenarnya sederhana: tanggul yang benar-benar kuat. Bukan timbunan lumpur yang mudah hanyut, bukan perbaikan sementara yang hanya bertahan sampai hujan berikutnya datang. Sebab, selama itu belum terwujud, Sungai Krueng Meureudu akan tetap menjadi ancaman yang hidup di depan mata mereka.
Perbaikan Mendesak
Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi, mengakui banjir yang kembali menerjang wilayahnya pada 8 April 2026 bukan semata akibat hujan deras. Bencana itu dipicu jebolnya tanggul sungai yang sebelumnya telah ditangani pascabanjir besar pada akhir November 2025.
Adapun desa yang terdampak banjir berulang tersebut yakni empat desa di Kecamatan Meureudu, antara lain Desa Manyang Cut, Beurawang, Meunasah Lhok, dan Masjid Tuha.
Kemudian, di Kecamatan Meurah Dua terdapat Desa Meunasah Mancang, Meunasah Raya, Blang Cut, Dayah Usen, Pante Beureune, Gampong Blang, Meunasah Bie, Geunteng, dan Meunasah Teungoh.
Menurut Sibral, kondisi Sungai Krueng Meureudu saat ini belum sepenuhnya pulih. Pendangkalan akibat sedimen lumpur yang terbawa banjir bandang sebelumnya membuat kapasitas sungai menurun drastis.
Akibatnya, aliran air dari pegunungan tak lagi tertampung saat curah hujan tinggi mengguyur wilayah hulu. “Pendangkalan sungai membuat Krueng Meureudu tidak mampu menampung volume air hujan,” kata Sibral kepada wartawan, Kamis, 9 April 2026.






