Waswas di Tepi Sungai Krueng Meureudu

Warga Meunasah Raya, Kecamatan meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya menunjukkan Sungai Krueng Meureudu, Sabtu, 4 April 2026. (Foto: Dani Randi)

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Empat bulan lebih sejak bencana ekologis akhir November 2025 lalu, bekasnya belum benar-benar hilang. Lalu air datang lagi, seolah menyapa para penghuni yang masih sibuk membersihkan lumpur dari dalam rumah.

Rabu malam, 8 April 2026, sekitar pukul 20.00 WIB, peristiwa itu seperti mengulang luka yang belum sembuh. Warga di Kecamatan Meurah Dua dan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, kembali diterjang banjir susulan dengan ketinggian air mencapai 1,5 meter.

Air bukan hanya berasal dari hujan deras di hilir, melainkan dari tanggul Sungai Krueng Meureudu yang dibangun darurat dari timbunan tanah lumpur, yang akhirnya jebol karena tak kuat menahan debit air akibat pendangkalan.

Seorang warga Desa Meunasah Raya, Kecamatan Meurah Dua, Mahdi (63), tak perlu melihat air lagi untuk tahu bahaya sudah dekat. Hujan saja cukup membuatnya gelisah. Sejak banjir terakhir, perasaan waswas itu seperti menetap, tak ikut surut bersama air.

Ia sudah hidup puluhan tahun berdampingan dengan Sungai Krueng Meureudu. Jarak rumahnya hanya sekitar 100 meter dari tanggul. Namun, baru kali ini ia merasa sungai itu benar-benar berubah menjadi ancaman.

“Kalau sudah hujan, sudah pasti tidak tenang kita, apalagi tanggul sungai itu kan rawan jebol,” ujar Mahdi, Selasa, 14 April 2026.

Tanggul dari lumpur di Pidie Jaya. (Foto: dani randi)

Sebelumnya, saat ditemui pada Sabtu, 4 April 2026, di dalam rumahnya sisa lumpur masih mengendap di sudut-sudut lantai. Sebagian perabotan yang sempat terendam diletakkan seadanya. Tak semua bisa diselamatkan.

Pascabencana akhir 2025 lalu, Mahdi sebenarnya bisa saja pergi meninggalkan rumahnya. Namun, ia memilih bertahan. Kebunnya berada tak jauh dari rumah dan menjadi sumber hidup yang sulit ditinggalkan. Baginya, pindah bukan sekadar soal tempat, tetapi juga soal kehilangan.

“Tidak mungkin (meninggalkan hunian asal), karena ada kebun. Selain rumah, kita bersihkan juga sedikit demi sedikit kebun,” ujarnya.

Pilihan itu membuatnya harus berdamai dengan rasa cemas yang datang setiap kali langit menggelap. Ia tak lagi sepenuhnya percaya pada tanggul dari tanah lumpur yang berdiri di tepi sungai. Tanggul itu, katanya, bukan perlindungan, melainkan sekadar penunda.

Benar saja, ketakutan itu terjawab pada Rabu malam, 8 April. Tanggul dari lumpur kembali jebol. Air bercampur tanah masuk ke rumah-rumah warga, bahkan ketika sebagian sudah lebih dulu dievakuasi.

“Kalau berharap dari lumpur yang jadi bentengnya, ya tidak akan kuat. Apalagi ini kan sungai sudah dangkal,” kata Mahdi.

Related posts