Derita Lumpur Belum Usai di Pidie Jaya

Kondisi jalan antar desa di Kecamatan Meurah Dua setelah dibersihkan dan menyisakan tumpukan lumpur di pinggir jalan, Sabtu, 4 April 2026. (Foto: Dani Randi)

Empat bulan berlalu sejak bencana ekologis banjir dan longsor menerjang Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, puing-puing bencana itu masih enggan beranjak. Di Kecamatan Meurah Dua dan Meureudu jadi dua wilayah yang parah, aroma tanah dan pemandangan gunungan material lumpur bercampur kayu masih terlihat di awal April 2026.

Pemulihan dinilai berjalan lambat, meninggalkan ribuan jiwa dalam keletihan fisik dan ketidakpastian ekonomi yang berkepanjangan.

Menyusuri jalanan dari Desa Pante Beureune hingga Meunasah Mancang di Kecamatan Meurah Dua, pemandangan tampak kontras dengan narasi pemulihan pascabencana pada umumnya. Meski status tanggap darurat telah lama lewat, lumpur pekat masih mengepung permukiman.

Ruas jalan antar desa memang sudah mulai bisa dilalui kendaraan roda empat, namun lapisan tipis sedimen yang mengering menjadi debu saat panas dan kembali menjadi licin saat hujan, masih menjadi ancaman bagi keselamatan pelintas.

Di sepanjang pinggir jalan desa, terlihat gundukan lumpur sisa pembersihan yang tingginya mencapai dua meter lebih. Tumpukan ini menyerupai benteng-benteng tanah yang membatasi pandangan warga ke arah rumah mereka sendiri.

Sementara di kejauhan, deru mesin alat berat terdengar terus beroperasi memprioritaskan pembersihan fasilitas umum, namun volume material yang masih masif membuat upaya tersebut tampak seperti pekerjaan yang tak kunjung usai.

Kesibukan warga masih terlihat sangat intens namun dengan peralatan yang sangat kontras dibandingkan beban kerja yang dihadapi. Tanpa bantuan alat berat di area privat, warga terpaksa berjibaku menggunakan sekop, cangkul, dan gerobak sorong seadanya.

Mereka mencoba mengikis lapisan tanah yang sudah mengeras di dalam rumah, lalu menumpuknya begitu saja di halaman karena tidak adanya akses pembuangan yang memadai.

Kondisi serupa juga menyelimuti Kecamatan Meureudu yang hanya dipisahkan oleh aliran Sungai Krueng Meureudu. Di Desa Manyang Cut misalnya, lumpur tebal masih menjadi penghuni tetap di sudut-sudut hunian warga.

Alat berat memindahkan material lumpur setelah membersihkan jalan di Desa Meunasah Mancang, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Sabtu, 4 April 2026.

Meskipun akses jalan antar dusun dan desa telah mulai dibersihkan secara bertahap, kondisi di dalam rumah-rumah penduduk masih memprihatinkan. Empat bulan mengendap, lumpur tersebut kini tidak lagi berbentuk cair, melainkan telah menjadi sedimen padat yang sulit untuk dikelupas.

Ironisnya, meski kedua kecamatan ini berada tidak jauh dari akses jalan nasional, bantuan tenaga untuk pembersihan rumah-rumah pribadi seolah luput dari jangkauan. Bagi sebagian warga, batas kemampuan fisik telah mencapai titik nadir.

Kelelahan yang menumpuk selama 120 hari terakhir membuat banyak keluarga mulai pasrah. Beberapa rumah terlihat dibiarkan begitu saja dengan lumpur yang memenuhi hingga separuh tinggi pintu, karena pemiliknya sudah tidak sanggup lagi mengayunkan cangkul.

“Tidak sanggup lagi kalau kita bersihkan sendiri,” keluh Munjir (45) warga Desa Meunasah Mancang, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya saat ditemui di rumahnya, Sabtu, 4 April 2026.

Related posts