Pantai Alue Naga telah lama menjadi salah satu lokasi favorit masyarakat Banda Aceh untuk menikmati senja. Letaknya yang strategis, tidak jauh dari kawasan kampus Universitas Syiah Kuala dan UIN Ar-Raniry, menjadikan kawasan ini sebagai tempat berkumpul yang digemari kalangan mahasiswa dan anak muda.
Berada di Desa Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala, pantai berpasir hitam ini berjarak sekitar delapan kilometer dari pusat Kota Banda Aceh.
Hamparan batu pemecah ombak yang membentang di tepi pantai, dipadukan dengan aliran sungai yang bermuara ke laut lepas, menciptakan panorama yang menenangkan.
Duduk di atas bebatuan sambil menikmati embusan angin dan menyaksikan matahari perlahan tenggelam menjadi kemewahan sederhana yang selalu berhasil menarik banyak orang datang ke tempat ini.
Namun, di balik keindahan tersebut, tersimpan pemandangan yang justru mencederai pesonanya. Sampah berserakan di antara batu-batu tempat pengunjung duduk menikmati senja.
Bungkus makanan ringan, botol plastik, lidi tusukan bakso, hingga puntung rokok tampak menghiasi sudut-sudut kawasan yang seharusnya menjadi ruang publik yang bersih dan nyaman. Ironisnya, pemandangan itu sering kali terlihat saat lokasi sedang ramai dipadati pengunjung.
Yang lebih memprihatinkan, sebagian besar penikmat senja di Alue Naga berasal dari kalangan mahasiswa. Sebagai kelompok yang kerap disebut agen perubahan dan kaum intelektual, mahasiswa tentu memahami berbagai persoalan lingkungan.
Mereka mengetahui dampak sampah plastik terhadap ekosistem laut dan menyadari pentingnya menjaga kebersihan ruang publik. Namun, pengetahuan tersebut seakan berhenti pada tataran teori ketika mereka berada di kawasan wisata ini.
Sangat disayangkan apabila identitas sebagai mahasiswa hanya tampak ketika berada di ruang kuliah, forum diskusi, atau saat menyuarakan kritik sosial.
Sementara dalam tindakan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, kesadaran itu justru menghilang. Menikmati alam adalah hak setiap orang, tetapi meninggalkan sampah setelah menikmatinya merupakan bentuk ketidakpedulian yang sulit dibenarkan.
Jika mereka yang memiliki akses pendidikan dan pemahaman lingkungan masih abai terhadap persoalan sederhana ini, maka muncul pertanyaan besar: kepada siapa lagi harapan menjaga lingkungan akan disandarkan? Sebab, menjaga kebersihan bukan hanya soal fasilitas atau keberadaan tempat sampah, melainkan juga soal kesadaran dan tanggung jawab pribadi.
Persoalan ini tidak akan selesai jika kita hanya saling menyalahkan atau sekadar mengeluh di media sosial. Perubahan harus dimulai dari tindakan kecil yang bisa dilakukan setiap individu.
Membawa kantong plastik khusus untuk menampung sampah pribadi saat berkunjung ke Alue Naga misalnya, merupakan langkah sederhana yang dapat memberi dampak nyata. Jika tidak menemukan tempat sampah di sekitar lokasi, membawa pulang sampah untuk dibuang di tempat yang semestinya tentu bukan hal yang sulit dilakukan.
Selain itu, komunitas mahasiswa dan organisasi kepemudaan juga dapat mengambil peran lebih besar melalui kegiatan bersih pantai secara berkala atau menginisiasi penyediaan tempat sampah yang memadai di kawasan tersebut.
Alue Naga terlalu indah untuk dikotori oleh sikap abai para pengunjungnya. Sudah saatnya kita menjadi penikmat alam yang bertanggung jawab, bukan sekadar penonton yang meninggalkan jejak kerusakan di tempat yang kita nikmati bersama.






