Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengungkapkan tantangan utama pembangunan Sekolah Rakyat (SR) di Aceh masih berkutat pada distribusi material konstruksi yang terhambat kondisi transportasi.
Hal itu disampaikan Dody usai meninjau progres pembangunan Sekolah Rakyat Aceh 2 di Kota Subulussalam dan Kabupaten Nagan Raya, Aceh, Minggu (14/6).
“Yang paling tertinggal ini dua, di Subulussalam dan Nagan Raya. Masalahnya sama transportasi material,” kata Dody.
Menurutnya, kondisi geografis menuju daerah itu membuat pasokan material dari Medan maupun Jakarta membutuhkan waktu dan biaya yang lebih besar dibanding daerah lain.
Ia mencontohkan akses darat menuju Subulussalam yang memiliki medan berat dan ekstrem. Bahkan dari Subulussalam menuju Nagan Raya masih membutuhkan waktu tempuh sekitar tujuh jam perjalanan.
“Suplai material secara darat memang berat. Kemarin dari Medan ke Subulussalam jalannya sangat-sangat ekstrem. Dari Subulussalam masih harus ke sini lagi (Nagan Raya) sekitar tujuh jam,” ujarnya.
Untuk mempercepat pembangunan, pemerintah bersama kontraktor pelaksana PT Waskita Karya mempertimbangkan penggunaan angkutan udara.
Namun opsi tersebut juga terkendala keterbatasan fasilitas bandara di wilayah setempat.
“Memang ada bandara, tapi belum bisa 100 persen dipergunakan. Tidak semua bandara sanggup didarati pesawat Hercules yang berkapasitas besar,” katanya.
Dody menyebut progres pembangunan Sekolah Rakyat di Subulussalam dan Nagan Raya saat ini baru mencapai sekitar 64 persen, terendah dibanding daerah lain di Aceh. Sementara pembangunan Sekolah Rakyat di Lhokseumawe telah mencapai sekitar 86 persen.
Selain akses transportasi, kata Dody pasokan semen juga menjadi kendala yang memperlambat pekerjaan konstruksi. Pemerintah pun berencana memperbanyak penggunaan batching plant untuk mendukung kebutuhan proyek.
Pihaknya juga telah meminta Balai Jalan Nasional (BJN) mendesain ulang ruas jalan menuju Subulussalam guna memperbaiki konektivitas dan memperlancar distribusi material.
Meski begitu pihaknya tetap menargetkan seluruh proyek Sekolah Rakyat selesai pada akhir Juni 2026.
Namun, beberapa lokasi yang terkendala logistik kemungkinan akan difungsikan terlebih dahulu sebelum disempurnakan secara bertahap hingga beroperasi penuh.
“Kita kejar semua selesai akhir Juni. Tapi kita juga harus melihat fakta di lapangan. Mungkin beberapa tempat yang kesulitan di transportasi material kita upayakan maksimal bisa fungsional dulu, kemudian disempurnakan bertahap sampai benar-benar 100 persen,” katanya.
Pembangunan sekolah rakyat di Nagan Raya seluas 8,1 hektare dan Subulussalam seluas 6,8 hektar menelan anggaran Rp 498 miliar yang bersumber dari APBN.
