Blok Andaman Jadi Magnet, Investor Asing hingga BUMN Incar KEK Arun Lhokseumawe

KEK Lhokseumawe akan diresmikan akhir 2017
PT Arun NGL Lhokseumawe, Aceh. (Ist/StatusAceh)

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Sejumlah perusahaan nasional, asing hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mulai melirik peluang investasi hilirisasi minyak dan gas bumi (migas) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe, Aceh.

Minat investasi itu muncul seiring rencana pengembangan cadangan gas Blok Andaman di lepas pantai Aceh yang hingga kini masih berproses.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem berharap masuknya investasi di sektor hilirisasi migas dapat memberikan dampak nyata terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Aceh.

“Semoga membawa kebaikan dan kemakmuran bagi Aceh,” kata Mualem, Senin (13/7).

Melalui Juru Bicara Pemerintah Aceh Nurlis Effendi, Mualem menyatakan membuka peluang seluas-luasnya bagi investor yang ingin menanamkan modal di KEK Arun.

“Hilirisasi migas dari Blok Andaman memang menjadi agenda utama Gubernur Mualem,” kata Nurlis di Banda Aceh.

Menurut Nurlis, Mualem telah meminta seluruh pihak terkait, terutama jajaran Pemerintah Aceh, mempersiapkan diri menghadapi pengembangan industri hilir migas.

Sejauh ini, sejumlah perusahaan nasional maupun asing telah menjajaki peluang investasi dengan memanfaatkan pasokan gas dari Blok Andaman. Salah satunya PT Indoasia Oiltank Terminal. Perusahaan yang bergerak di sektor infrastruktur energi dan petrokimia itu bertemu dengan Pemerintah Aceh di Kantor Gubernur Aceh, Senin (13/7).

Salah satu pemegang saham perusahaan tersebut adalah Mohamad Bawazeer, bos Indrillco Group sekaligus Ketua Komite Bilateral Arab Saudi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.

Rombongan perusahaan diterima Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh M Nasir Syamaun. Dalam pertemuan tersebut, Indoasia Oiltank Terminal turut menggandeng Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh dan melibatkan tiga profesor teknik kimia.

“Kami menyambut baik setiap calon investor yang ingin berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan kerja di Aceh,” kata Nasir.

Nasir mengapresiasi langkah perusahaan menggandeng USK sebagai mitra dalam rencana pengembangan industri hilir di KEK Arun. Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi lokal menjadi pertanda positif karena investasi yang masuk diharapkan turut memberikan dampak terhadap pengembangan sumber daya manusia dan dunia pendidikan di Aceh.

Sebelumnya, PT Pupuk Indonesia (Persero) juga menyatakan rencana membangun dua pabrik metanol di Aceh dan Kalimantan Timur untuk memenuhi kebutuhan biodiesel dalam negeri.

Rencana tersebut disampaikan Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/4).

Pabrik metanol di Aceh direncanakan dibangun di kawasan KEK Arun Lhokseumawe.

Tak hanya perusahaan nasional. Sebuah perusahaan berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab, yang bergerak di bidang perdagangan energi dan pengembangan proyek minyak dan gas juga menyatakan minat membangun pabrik metanol berbasis gas alam di Aceh.

Minat tersebut disampaikan melalui surat kepada Gubernur Aceh pada 26 April 2026. Perusahaan itu merencanakan pembangunan pabrik metanol dengan memanfaatkan pasokan gas dari Lapangan Tangkulo maupun sumber gas lainnya yang dikembangkan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di wilayah Aceh.

Minat investasi juga datang dari perusahaan berbasis di Jiangsu, China. Bersama perusahaan nasional yang berkedudukan di Jakarta, perusahaan tersebut menyampaikan ketertarikan mengembangkan proyek likuefaksi LNG di KEK Arun melalui surat kepada Gubernur Aceh pada 8 Juli 2026.

Masuknya sejumlah calon investor tidak terlepas dari potensi besar cadangan migas di kawasan Andaman.

Kawasan tersebut memiliki enam blok migas utama, yakni Andaman I, Andaman II, Andaman III, Central Andaman, South Andaman, dan South West Andaman. Tahap awal pengembangan direncanakan dimulai dari Lapangan Gas Tangkulo di Wilayah Kerja South Andaman yang dikelola Mubadala Energy.

“Proyek inilah yang akan menjadi pintu masuk dimulainya hilirisasi migas di Aceh,” kata Nurlis.

Pemerintah Aceh menargetkan kegiatan hilirisasi migas berpusat di KEK Arun. Rencana tersebut selaras dengan Proyek Strategis Nasional dalam RPJMN 2025-2029 yang menempatkan pengembangan KEK Arun sebagai salah satu program prioritas.

Kebijakan tersebut juga sejalan dengan arah pembangunan dalam RPJMA Aceh 2025-2029.

Nurlis mengatakan Lapangan Gas Tangkulo diproyeksikan mampu memproduksi sekitar 300 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD).

Dari jumlah tersebut, sekitar 160 MMSCFD telah memiliki komitmen penjualan melalui Gas Sale Agreement (GSA) kepada PLN. Sisa produksi gas dinilai membuka peluang besar bagi tumbuhnya berbagai industri hilir di Aceh.

“Potensinya masih sangat besar untuk mendukung pertumbuhan industri di Aceh,” ujarnya.

Gas alam dari Blok Andaman dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, termasuk metanol dan hidrogen. Selain gas, wilayah South Andaman diperkirakan menghasilkan sekitar 7.500 barel kondensat per hari.

Kondensat tersebut dapat diolah menjadi nafta, kerosin hingga gasoline yang menjadi bahan baku industri petrokimia, cat, serta bahan bakar minyak.

Pemerintah Aceh berharap pengembangan industri hilir di KEK Arun tidak hanya menjadikan Aceh sebagai daerah penghasil migas, tetapi juga mampu menciptakan industri baru, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam bagi perekonomian daerah.

Related posts