Siasat Kebun Swadaya Warga Geuleudah Pasca-Bencana

Petani membawa kangkung hasil panen melintasi tanaman jagung di lahan pertanian Desa Geuleudah, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Kamis (3/9/2026). Diversifikasi tanaman hortikultura yang hemat air menjadi solusi warga untuk memulihkan perekonomian pascarusaknya jaringan irigasi utama. (FOTO: EKO DENSA/KANAL ACEH)

Meureudu (KANALACEH.COM) — Petakan sawah di Desa Geuleudah, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, tak lagi menyajikan hamparan bulir padi. 

Sejak bencana alam merusak jaringan irigasi utama pada akhir 2025 lalu, pasokan air terhenti total dan warga sempat menanam semangka pascabencana, namun hasilnya kurang memuaskan.

Di tengah krisis air ini, seorang warga setempat meminjamkan tanahnya secara cuma-cuma daripada terbengkalai, lalu membaginya menjadi kaveling-kaveling kecil untuk digarap tetangganya. 

Tanpa uluran bantuan luar, para petani berswadaya memodali bibit dan pupuk sendiri untuk mengalihkan fokus ke tanaman hortikultura hemat air, seperti kangkung, sawi, bayam, terong, tomat, serta tanaman lainnya.

“Tidak ada tanam padi karena tidak ada irigasi akibat banjir,” kata Ibu Rohani, salah seorang warga setempat yang mengolah lahan pinjaman tersebut. 

“Semua kebutuhan beli sendiri semua.”

Bagi warga Geuleudah, mengolah kebun pinjaman ini menjadi siasat bertahan hidup paling realistis untuk kebutuhan dapur sekaligus mengantongi rupiah dari penjualan pasar. 

Ketangguhan ini menjadi cermin kemandirian akar rumput yang patut diapresiasi.

Mendekati satu tahun pascabencana, perbaikan jaringan irigasi oleh pihak terkait tak kunjung menjangkau kawasan ini. 

Rangkaian foto berikut merekam potret adaptasi warga, sebuah ikhtiar bertahan hidup di tengah infrastruktur pertanian yang belum pulih.

Related posts