Peneliti UGM akan lakukan ekspedisi ke Antartika

Peneliti UGM akan lakukan ekspedisi ke Antartika
Ilustrasi - kamp penelitian Vostock di Antartika. (Reuters)
--Ads--
loading...

Jakarta (KANALACEH.COM) – Sebuah kegiatan penelitian masa depan mengenai planet bumi akan dilakukan di Antartika. Peneliti Indonesia, Nugroho Imam Setiawan akan ambil bagian dalam ekspedisi besutan Japan Antarctic Research Expedition (JARE) tersebut.

Dosen Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menjadi satu-satunya anggota yang berasal dari Asia Tenggara.

Ekspedisi ini sendiri akan dilakukan selama dua bulan, yaitu pada Januari sampai Februari 2017. Sebelum berhasil lolos, Nugroho terlebih dahulu melakukan seleksi wawancara serta rekomedasi.

Ads

“Banyak peneliti mendaftar ekspedisi ini seperti dari Malaysia, Myanmar, Vietnam, Kamboja, dan Laos. Tetapi yang terpilih hanya dari tiga negara, yaitu Indonesia, Srilanka, dan Mongolia,” ujar Nugroho seperti dinukil dari laman UGM, Kamis (17/3).

Selain ketiga peneliti dari luar Jepang, ada 61 peneliti Jepang bergabung dalam ekspedisi tersebut. Nantinya, mereka akan bergabung dengan para observer melalui program Asian Forum for Polar Sciences (AFOPS) melalui basecamp di Antartika.

“Saya masuk ke dalam tim geologi yang akan meneliti batuan metamorf di Antartika. Persyaratan dasarnya adalah spesialisasi keilmuan di bidang batuan metamorf,” ujar Nugroho.

Sebelum melakukan ekspedisi sungguhan tahun depan, para anggota pun diharuskan untuk melakukan training terlebih dahulu dalam Winter Camp Training di Jepang.

Pelatihan yang diselenggarakan oleh Nasional Institute of Polar Research (NIPR) tersebut bertujuan untuk mempersiapkan para anggota agar bisa melakukan riset di tengah cuaca Antartika yang ekstrim.

Pelatihan tersebut diisi degan melakukan beberapa praktik, salah satunya upaya dalam menemukan rute jika tersesat dalam ekspedisi.

“Kami tim observer juga mendapatkan pelatihan berjalan di salju dengan climbing iron, evakuasi jurang, pelatihan tidur di bivax dan lainnya,” imbuhnya.

Rasa bangga pun menyelimuti Nugroho lantara bisa mewakili Indonesia dalam ekspedisi tersebut.

Meski demikian, Nugroho mengaku tidak bisa menepis kegugupan menghadapi cuaca ekstrim lantaran sebagai orang Indonesia yang hidup di garis khatulistiwa dia belum pernah merasakan hidup dalam cuaca minus 10 derajat celcius.

Lulusan Kyushu University Jepang itu berharap ekspedisi yang dilakukannya bisa lancar dan dia dapat menulis publikasi yang baik. Sehingga generasi berikutnya bisa melakukan penelitian yang serupa.

“Akan lebih baik lagi jika Pemerintah Indonesia mau membuat basecamp riset di Antartika,” harapnya. [Okezone]