Mesin Pencari Google Rasis?

Salah satu tampilan mesin pencari Google. (Google)
--Ads--
loading...

Jakarta (KANALACEH.COM) – Gara-gara algoritma seringkali kacau balau, Google seringkali menimbulkan prasangka rasisme. Kali ini terjadi pada hasil penelusuran yang berkaitan dengan gaya rambut.

Seorang mahasiswi bernama Rosalia mempublikasikan “keganjilan” dari hasil telusuran Google Images pada mesin peramban yang bisa dikatakan rasis.

Kala itu Rosalia sedang mencari kata kunci “unprofessional hairstyles for work”, kemudian yang ditampilkan adalah gambar para wanita berkulit hitam dengan gaya rambut yang beragam, namun mayoritas keriting.

Ads

Sedangkan saat ia mengganti kata kunci dengan “professional hairstyles for work”, yang muncul adalah gambar-gambar wanita berkulit putih dengan rambut lurus.
Hal yang paling kentara dari dua macam hasil penelusuran tersebut adalah gaya rambut yang berbeda serta warna kulit.

Melalui akun Twitternya, @BonKamona, ia mempublikasikan screenshot dua hasil pencarian tersebut.

Kicauan Rosalia tersebut mendapat reaksi dari netizen Twitter, yakni mendapatkan lebih dari 10 ribu retweet.

Ini bukan kali pertama algoritma Google timbulkan prasangka rasisme terhadap pengguna. Pada Juli 2015 lalu, pengguna bernama Jacky Alciné marah besar karena menemukan foto dirinya bersama sang kekasih berada di dalam kategori foto berlabel “Gorillas”. Diketahui keduanya memang warga berkulit hitam.

Aplikasi Google Photos memang memiliki algoritma pintar yang secara otomatis mengatur dan memberi tag foto para pengguna sesuai objek pada foto itu.

Kemudian pada Mei di tahun yang sama, Google sempat meminta maaf karena telah rasis di dalam Google Maps yang menampilkan hasil pencarian Gedung Putih sebagai ‘rumah’ Presiden Amerika Serikat, Barack Obama dengan kata cercaan “nigger”.

Mungkinkah algoritma jadi ‘dalang’ rasisme?

Pimpinan eksekutif Google Eric Schmidt mengatakan, fitur Google Images hadir pada 2000. Fitur itu hadir karena adanya permintaan tinggi dari para user.

Mengutip The Guardian, Schmidt memberi contoh, saat Jennifer Lopez tampil memukau dengan gaun hijau Versace pada perhelatan Grammy Awards beberapa tahun silam, orang-orang tentu ingin melihat foto-fotonya. Tidak ada yang Googling untuk membaca beritanya tentu saja, kata Schmidt.

Kini Google Images bisa dikatakan penggunaannya “tidak bertele-tele”, atau ia menyajikan galeri foto secara instan dan relevan sebagai respon dari tiap kata atau frase yang dimasukan oleh pengguna.

Selama ini para netizen selalu membayangkan bahwa mesin peramban sebagai ‘makhluk’ netral dan patuh terhadap kemauan pengguna sesuai logika, serta kaya akan informasi.

Dalam kasus pencarian model rambut tersebut, Google Images tampaknya mengambil banyak gambar wanita berkulit hitam yang kebetulan gaya rambutnya “unprofessional” dari artikel blog dan media sosial Pinterest.

Banyak di antaranya berdiskusi dan protes soal sikap rasisme terhadap rambut mereka yang cenderung keriting ketimbang lurus. Berdasarkan publikasi Hampton University, banyak yang merasa tertekan karena tuntutan tempat kerja yang mengharuskan rambut mereka berpenampilan lurus.

Algoritma Google pada akhirnya pun menampilkan apa yang selama ini dibicarakan mengenai “unprofessional hair”, bukan untuk membuat ‘putusan’ mengenai model rambut dan warna kulit tertentu yang berujung pada prasangka rasisme.

Google Images selama ini bekerja sesuai respons dari apa yang orang-orang ingin lihat. Fitur ini dianggap belum memutuskan (dan dirancang) untuk menampilkan apa yang orang-orang perlu lihat. [CNN Indonesia]